Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

7 Akibat Penundaan pada Kondisi Keuangan Kita

#akibat penundaan #kondisi keuangan

Menunda sesuatu bukan merupakan konsep yang asing bagi kita. Bayangkan saja, sewaktu kita masih sekolah, kita sudah “belajar” menunda pekerjaan rumah tanpa harus diajari bapak-ibu. Saat kita bekerja pun, kadang penundaan itu masih terpatri begitu rupa dalam ingatan dan sanubari kita, sehingga kita telah terbiasa menumpuk-numpuk kerjaan di menit terakhir.

Padahal, disadari atau tidak, menunda itu merupakan kebiasaan jelek yang akan berdampak pada berbagai macam aspek kehidupan kita. Parahnya, menunda hal-hal yang terlihat remeh dapat membuat kita menjadi orang melarat sedunia! Ingin tahu penjabarannya? Bacalah 7 poin akibat penundaan pada kondisi keuangan di berbagai sisi kehidupan berikut ini!

1. Kalau Anda Berinvestasi, Maka Uang Anda Akan Lambat Berkembang

Berbicara mengenai investasi, biasanya yang muncul di pikiran adalah orang-orang kaya yang berhasil melipatgandakan uang mereka lewat bertransaksi di pasar modal. Namun, hal berbeda akan terjadi seandainya orang-orang sukses ini adalah orang-orang yang suka menunda.

Biasanya, problema utama orang-orang yang suka menunda berinvestasi adalah terlalu takut rugi. Takut kalau-kalau harga saham perusahaan yang mereka beli anjlok. Begitu takutnya hingga mereka menunda untuk berinvestasi. Setelah menunda sekian lama, barulah mereka menyadari tabungan mereka tidak cukup berkembang untuk memenuhi kebutuhan pensiun, namun, semua itu sudah terlambat. Makanya, berinvestasilah selagi masih muda dan ada kesempatan.

2. Jangan Tunda Menabung Atau Anda Akan Menghabiskan Lebih Banyak Uang

Menabung memang kebiasaan terpuji yang akan membuat orang menjadi kaya. Namun, dasar dunia ini tidak ingin kita berhasil, maka ada saja keadaan yang mencoba mengacau kita agar tidak jadi menabung.

Misalnya, kita janji akan menyetorkan buku tabungan di bulan April. Pada pertengahan April, kita disibukkan dengan lembur kerja beberapa hari sehingga tidak sempat menyetor tunai ke tabungan di bulan tersebut. Belum lagi di bulan yang sama ada diskon dan promosi di berbagai restoran hotel terkenal. Ada juga arisan-arisan menarik dengan iuran yang kecil-kecil jumlahnya namun kalau dijumlah tetap saja jadinya besar. Jadilah kita menunda ke bulan-bulan berikutnya. Alih-alih mereda, godaan yang ada justru makin parah. Yaaaah… Ga jadi nabung, deh.

Padahal, kebiasaan menunda-nunda untuk menabung ini yang membuat kita ujung-ujungnya overspend uang yang kita miliki. Tentu kebiasaan ini tidak baik, apabila kalau-kalau ke depannya kita mendadak butuh dana dan tidak ada tabungan ekstra. Makanya, selagi bisa menabung, mari kita menabung sejak dini!

3. Soal Pembayaran Hutang, Jika Ditunda, yang Ada Justru Tagihan Makin Membengkak

Hayo, yang suka ngutang tapi tidak kunjung mengembalikan apa yang dipinjam. Seringkali karena naturnya sama-sama “mendapatkan uang”, perbedaan meminjam dengan meminta dapat menjadi tipis. Padahal, meminjam harus ada balas jasanya terhadap mereka yang meminjamkan, yakni dalam bentuk uang.

Biasanya, ini dilakukan oleh orang-orang yang sudah terlanjur menginginkan suatu produk yang telah lama mereka idamkan. Karena tidak tahan nafsu keinginan, di satu sisi tidak punya uang untuk membeli, jadilah ia meminjam uang dengan dalih mengembalikan pada waktu yang ia tentukan. Ujung-ujungnya, entah karena kesibukan pribadi atau terlena dengan pemberian yang diterima, uang yang dijanjikan kembali tidak kunjung dikembalikan.

Persoalan pinjam-meminjam atau hutang-berhutang ini dapat terjadi di manapun dan untuk produk kredit apapun. Yang jelas, kalau pembayaran hutang sudah ditunda-tunda terus, yang ada hanyalah tagihan yang semakin membengkak. Jangan lupakan juga kehadiran debt collector yang akan senantiasa meneror Anda. Pokoknya kalau bisa, bayarlah hutang-hutang Anda tepat pada waktunya!

4. Untuk Penundaan Bayar Pajak, Hati-Hati dengan Persoalan Salah Catat

Dirjen Pajak dan KPP adalah dua lembaga yang sangat teliti dalam urusan pajak. Bukan hanya soal tanggal pelaporan, namun pemeriksaan pajak dapat mereka lakukan secara menyeluruh sampai bulatan koma terakhir.

Persoalannya, kita sering lupa akan hal ini. Mungkin kita tidak lupa membayar, namun karena menunda-nunda pembayaran pajak, tahu-tahu sudah waktunya melaporkan SPT dan kita pun terburu-buru mengisi lembar SPT. Jadilah banyak field yang salah, dan berbagai denda serta surat peringatan pun dilayangkan “orang-orang pajak” pada kita. Makanya, jangan percaya dengan yang namanya “The power of kepepet!”

5. Awas, Anda Bisa Kelewatan Tanggal Deadline, Kalau Terus Menunda Bayar Tagihan

Kendati hampir sama naturnya dengan pembayaran hutang, tagihan agak berbeda dalam hal jumlah dan jenis pembayarannya. Kalau hutang (mencicil) biasanya terkait dengan hal-hal “besar” seperti mobil, sepeda motor, atau rumah, maka tagihan biasanya lebih “kecil” semacam asuransi atau PDAM.

Dari sini, persoalannya bukan pada kecil atau besarnya tagihan yang dibebankan pihak ketiga pada kita. Permasalahannya, kita sering lalai dalam membuka-buka kembali tagihan apa saja yang masih menunggak. Tahu-tahu, tanggal deadline yang beberapa minggu kelewatan pun Anda baru sadar.

Tiba-tiba saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kita makin sulit mendapat pinjaman karena terkenal sebagai orang-orang yang tidak mau membayar tagihan. Padahal, masalahnya sebenarnya sederhana, yakni kelalaian pribadi.

Tidak mau hal ini terjadi? Ayo, mulai sekarang, lihat dan catat baik-baik tagihan Anda, tentukan waktu yang tepat untuk membayar tagihan, dan bersikaplah tegas soal waktu yang telah Anda tetapkan. Alternatifnya, Anda juga dapat memanfaatkan fasilitas autodebet buku tabungan, sehingga tanggal dan bulan autodebet yang pasti akan menghindarkan Anda dari kepikiran soal tagihan yang menumpuk.

6. Waktu Melamar Kerja Pun, Si “Tukang Nunda” Akan Kesulitan Dalam Bernegosiasi Gaji

Meskipun sekarang ada banyak peluang untuk berwirausaha atau kerja online, tetap ada banyak orang di Indonesia yang memilih untuk melamar kerja di perusahaan. Seringnya penundaan bukan berasal dari kecepatan menulis surat lamaran atau CV, namun lebih karena gaji yang diharapkan.

Memang dasar dunia ini tidak mau kita berhasil, makanya kita cenderung dicekoki dengan paham kalau perusahaan yang mampu menggaji karyawan dengan tinggi pastilah memiliki proses seleksi atau pengukuran kinerja yang susah. Dari sini, banyak yang termakan bujuk rayu dunia. Akhirnya, mereka melepaskan impian mereka dan terus menunda, sampai pada akhirnya mereka hanya bisa menyesal melihat posisi yang mereka idamkan sudah terisi penuh.

Solusinya, begitu merasa diri kurang dibayar di pekerjaan sebelumnya, segera bergerak cepat! Carilah pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi. Jangan hiraukan dunia mau berkata apa, karena siapa tahu, yang sulit bagi dunia adalah yang mudah bagi kita?

7. Jangan Takut Meminta Kenaikan Upah atau Promosi, atau Anda Harus “Tunggu Tahun Depan”

Biasanya, ketakutan meminta “sesuatu yang lebih” seperti kenaikan upah atau promosi ini dilatarbelakangi oleh rasa sungkan yang dipicu oleh tidak adanya dukungan sekitar untuk maju ke arah yang lebih depan. Ketakutan ini ujung-ujungnya membuat seseorang menunda promosi atau kenaikan upah saat semua temannya sudah naik gaji atau jabatan.

Karena ia terus takut dan menunda-nunda, jadilah ia mau tidak mau harus menunggu periode berikutnya untuk uang perusahaan dapat memutar kembali. Masalahnya, mau tunggu sampai tahun berapa? Karena itu, adalah baik untuk meminta kenaikan upah atau promosi begitu kita merasa perlu mendapat kenaikan upah atau promosi. Bagaimanapun juga, lebih baik kita ngomong langsung daripada menunda-nunda yang berujung lupa dan menyesal.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang 7 akibat penundaan pada kondisi keuangan, semoga bermanfaat.



Perbedaan Tax Avoidance dengan Tax Evasion
Apa itu Traveloka PayLater (Pinjaman dari Traveloka)?
Perbedaan antara Pajak dengan Bea Cukai
Kartu Kredit dengan Fasilitas Lounge di Bandara Soekarno Hatta
Pentingnya Mengenali Nasabah dalam Sektor Perbankan
Step by Step Cara Mendaftarkan Merek Dagang
Teknik untuk Mencegah Pemalsuan Uang dan Fitur yang Tidak Ada di Uang Palsu
Perbedaan Karakteristik Perusahaan Dagang dengan Perusahaan Jasa
Cara Membeli Rumah Lelang Melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN)
Perbedaan Kurs Referensi JISDOR vs Kurs Tengah BI


Bagikan Ke Teman Anda