Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Apa Beda Deposito Konvensional dan Deposito Syariah?

#Deposito Konvensional #Deposito Syariah

Selain investasi di pasar saham, deposito merupakan produk keuangan yang menguntungkan dan memiliki peminat yang cukup banyak. Tambahannya, di beberapa negara, deposito dapat dijadikan bukti keuangan yang menjamin kita untuk dapat tinggal di negara tersebut untuk jangka waktu tertentu.

Di Indonesia, kita mengenal dua jenis deposito yang paling dominan, yakni deposito konvensional dan deposito syariah. Artikel ini akan membahas hal-hal yang membedakan antara deposito konvensional dengan deposito syariah, yang dijabarkan pada poin-poin sebagai berikut:

1. Prinsip yang Berlaku Secara Umum dan Hubungannya dengan Nasabah

Secara umum, deposito pada bank konvensional memiliki prinsip dan seperangkat peraturan yang sudah disesuaikan dengan aturan umum bank. Dengan kata lain, “modernisasi” merupakan nama tengah dari deposito konvensional dikarenakan prinsip yang berlaku mengikuti aturan-aturan perbankan terkini dalam lingkup yang lebih luas.

Karena peraturan dan prinsip yang berlaku sifatnya umum, maka sebagai akibatnya, hubungan bank penyedia produk deposito konvensional dengan nasabah yang hendak membeli deposito hanya sebatas penyedia jasa dengan pelanggan saja. Jadi, apabila nasabah deposito konvensional melanggar pasal-pasal dalam deposito, hukuman yang ada tetap dijalankan. Tidak ada hubungan yang lebih dekat dari itu.

Lain halnya dengan deposito syariah yang disusun berdasarkan prinsip syariah sebagai prinsip utamanya, hubungan bank dengan nasabah cenderung seperti mitra dan bukan menjadi yang saling jauh satu dengan yang lainnya. Hal ini dikarenakan deposito syariah erat kaitannya dengan bagi hasil, di mana baik bank maupun nasabah yang menjadi mitra menerima bagiannya masing-masing yang sudah disepakati bersama.

2. Ada vs. Tidak Ada Pengaturan mengenai Bunga

Pembeda lain yang mencolok dari deposito konvensional dengan deposito syariah adalah cara mereka yang sangat berbeda dalam memperlakukan bunga. Dalam hal memberlakukan aturan mengenai bunga, poin pembedanya dibagi menjadi bunga sebagai imbal hasil investasi dan bunga yang melekat pada biaya penalti.

Pendapatan bunga sebagai imbal hasil investasi pada deposito konvensional cenderung tetap sesuai dengan persentase yang diberikan oleh masing-masing bank. Selain itu, bank-bank penyedia produk deposito konvensional dapat mengenakan bunga pada biaya penalti yang dibebankan pada nasabah kira-kira 0,5 hingga 2 persen dari nilai deposito, karena tidak adanya prinsip dan peraturan syariah yang membatasinya.

Karena ada prinsip dan peraturan syariah yang membatasi produk deposito syariah, maka deposito syariah tidak mengenal bunga. Sebagai gantinya, mereka akan membagi hasil, di mana dasar bagi hasil tergantung dari keuntungan yang diperoleh bank sebagai ukuran kinerja sesuai dengan akad mudharabah. Selain itu, karena tidak ada pengaturan bunga, deposito syariah tidak membebankan bunga pada biaya penalti nasabah.

3. Cara Mengelola Dana Investasi

Deposito konvensional dan deposito syariah juga berbeda dalam hal pengelolaan dana investasi yang melekat pada deposito. Dalam hal ini, selain investasi secara umum, kita juga akan membahas mengenai kandungan risiko yang melekat di dalamnya dan kecocokan dengan berbagai pihak yang terkait.

Karena dibentuk atas dasar prinsip perbankan secara umum, maka tidak ada batasan investasi bagi bank yang menyediakan produk deposito konvensional. Kemungkinan investasi pada cakupan yang lebar ini membuat risiko yang terkandung dalam produk deposito konvensional secara umum lebih tinggi dibandingkan dengan produk deposito syariah, sehingga lebih cocok bagi pengusaha yang sudah memiliki jam terbang tinggi dalam hal pengelolaan keuangan secara cermat.

Sebaliknya, dengan risiko yang lebih rendah, deposito syariah umumnya digunakan oleh pengusaha UKM untuk melancarkan perputaran uang dalam usaha mereka. Tentu tidak ada produk keuangan berisiko rendah tanpa kekurangan yang perlu dipertimbangkan, karena itu deposito syariah sebagai produk keuangan juga memiliki sisi minus tersendiri dibandingkan dengan produk deposito konvensional, yakni terbatasnya peluang investasi karena saklek mengikuti prinsip dan hukum syariah.

4. Perlakuan dalam Akuntansi

Produk keuangan dan akuntansi selalu berjalan beriringan. Mengingat baik deposito konvensional maupun deposito syariah sama-sama merupakan produk keuangan, maka masing-masing memiliki perlakuan akuntansi yang berbeda.

Dalam deposito konvensional di mana hubungan antar bank dan nasabah lebih ke arah debitur-kreditur dengan aturan-aturan yang mengikat, perlakuan akuntansinya lebih condong ke pos hutang-piutang. Debitur akan mencatat sebagai hutang dengan beban bunga, sementara kreditur akan mencatat deposito konvensional sebagai piutang dan pendapatan.

Di sisi yang lain, deposito syariah dalam pos akuntansi masuk pada pos investasi, yang umumnya terkait dengan aset atau modal tergantung dengan jangka waktu depositonya. Hal ini dikarenakan sistem bagi hasil yang terkandung dalam deposito syariah dan konsep kemitraan yang diusungnya, sehingga tidak ada pihak yang berhutang atau berpiutang ke pihak lainnya.

Dengan mempertimbangkan keempat poin perbedaan deposito konvensional dan deposito syariah seperti di atas, paling tidak kita bisa mengetahui model deposito yang mana yang lebih cocok untuk diri kita.

Singkatnya, untuk kita yang sudah terbiasa mengelola keuangan dan tidak masalah dengan risiko tinggi, deposito konvensional dengan investasi dan pendapatan bunganya mungkin lebih cocok untuk kita. Di satu sisi, produk deposito syariah lebih cocok bagi kita yang ingin pengelolaan keuangan yang halal dan cinta keamanan dalam pengaturan keuangan yang berbasiskan prinsip syariah.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang perbedaan Deposito Konvensional dan Deposito Syariah, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Cara Menghitung Zakat Deposito Syariah
Kisah dan Pengalaman Orang-Orang Kaya yang Jatuh Miskin
Kebiasaan ini Dapat Menurunkan Harga Diri Anda!
Mengapa Sisa Makanan di Retoran Dibuang? Mengapa Tidak Disumbangkan?
Haruskah Drop Out (DO) untuk Fokus Membangun Startup?
Gagal Buat Startup? Bikin Startup Baru Lagi Saja!
Tips untuk Usaha Kecil Menengah (UKM) agar Semakin Maju
Keunggulan Kartu ATM dengan Teknologi Chip
Inilah 4 Kekuatan Bisnis Orang Yahudi yang Perlu Anda Tahu
6 Fakta Bisnis Orang Jepang


Bagikan Ke Teman Anda