Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Apa itu Defisit Transaksi Berjalan? Penyebab & Dampak Defisit Transaksi Berjalan

Suatu negara dikatakan berkembang bahkan maju diukur dari perekonomiannya yang kuat. Tak hanya level mikro saja, tetapi juga makro yang mencakup seluruh aktivitas ekonomi secara nasional. Di permukaan, ekonomi tampak sederhana hanya seputar urusan pasar, penawaran dan permintaan, dan jual beli. Namun, jika diselami lebih dalam, ekonomi memiliki cakupan yang lebih luas dan kompleks agar senantiasa stabil. Ada banyak faktor baik yang bersifat internal maupun eksternal yang mempengaruhinya. Sebab itu, stabilitas perekonomian suatu negara tak bisa dianggap remeh.

Definisi Defisit Transaksi Berjalan

Dalam lingkup ekonomi makro, dikenal istilah defisit transaksi berjalan (current account deficit). Apa itu defisit transaksi berjalan? Secara sederhana defisit transaksi berjalan dapat dipahami sebagai kondisi keuangan negara di mana angka pertumbuhan impor lebih tinggi dibandingkan angka pertumbuhan ekspor.

Impor dan ekspor merupakan instrumen dalam perhitungan PDB (Produk Domestik Bruto). PDB sendiri merupakan tolok ukur dari laju pertumbuhan ekonomi suatu negara. Semakin tinggi nilai PDB yang diperoleh, maka semakin baik laju perekonomian negara tersebut. Demikian pula sebaliknya.

Impor berarti masuk, yakni membeli barang dan jasa dari luar negeri untuk mencukupi kebutuhan di dalam negeri. Sementara ekspor artinya keluar, yaitu menjual barang dan jasa dari dalam negeri ke luar negeri. Transaksi baik impor maupun ekspor ini dicatat dalam neraca perdagangan internasional suatu negara.

Semakin tinggi nilai ekspor akan berdampak positif pada neraca perdagangan atau transaksi berjalan karena akan mengalami surplus. Sebaliknya, nilai impor yang semakin tinggi justru menggerus neraca perdagangan, sehingga mengalami defisit transaksi berjalan.

Penyebab Defisit Transaksi Berjalan

Pemberdayaan usaha rakyat secara positif dalam meningkatkan volume produksi. Secara lebih lanjut, hal ini akan mampu meningkatkan ekspor dan menekan nilai impor. Sayangnya, dalam praktik ekonomi makro tak sesederhana itu. Banyak faktor yang menyebabkan suatu negara mengalami defisit transaksi berjalan. Berikut beberapa di antaranya.

  • Lambatnya pertumbuhan ekonomi global

Perdagangan internasional yang lesu mengakibatkan lambatnya pertumbuhan ekonomi global. Kondisi perekonomian dunia yang tak bergairah berpengaruh pada nilai ekspor yang mengalami penurunan tajam. Perekonomian global yang diragukan prospeknya berimbas pada perekonomian nasional.

Indonesia sebagai negara berkembang, perekonomiannya tak lepas dari pengaruh faktor lambatnya pertumbuhan ekonomi global. Defisit transaksi berjalan yang dialami Indonesia dari tahun ke tahun kian melebar. Meski secara statistik nilai ekspor mengalami kenaikan, namun tak mampu memberikan surplus pada neraca perdagangan. Hal ini dipicu oleh kebijakan pemerintah yang lebih giat menggalakkan kegiatan impor dibandingkan dengan mendistribusikan barang ke luar negeri dalam kegiatan ekspor.

  • Turunnya permintaan dan harga komoditas global

Penurunan permintaan dan harga komoditas global turut berperan dalam menyebabkan terjadinya defisit transaksi berjalan. Bagi negara-negara pengekspor komoditas, faktor ini jelas memberi efek goncangan yang cukup besar dalam transaksi perdagangan internasional. Turunnya permintaan dan harga komoditas mengakibatkan pendapatan negara dari ekspor juga mengalami penurunan yang cukup signifikan. Pendapatan ekspor yang menurun tentu saja akan mempengaruhi neraca perdagangan. Apalagi jika penurunan pendapatan ekspor justru ditindaklanjuti dengan meningkatkan impor dari luar negeri. Kondisi ini menyebabkan defisit transaksi berjalan tak bisa lagi dihindari.

  • Program subsidi yang membebani keuangan negara

Di satu sisiprogram pemberian subsidi merupakan suatu bentuk kepedulian atau upaya pemerintah memberikan kesejahteraan kepada rakyat, utamanya rakyat yang tergolong kurang mampu atau prasejahtera. Namun di sisi lain, subsidi ini justru membebani keuangan negara. Lihatlah Venezuela yang mengalami krisis ekonomi cukup mengkhawatirkan. Dari negara kaya pemilik cadangan minyak terbesar di dunia, secara tiba-tiba menjadi miskin hanya dalam waktu sekejap. Pemberian subsidi kepada rakyat secara besar-besaran hampir di semua sektor disinyalir menjadi penyebab negara tersebut mengalami keterpurukan.

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia juga memberikan subsidi kepada rakyat terutama dalam penggunaan bahan bakar minyak. Seiring dengan semakin tingginya kebutuhan rakyat akan bahan bakar minyak, subsidi dirasa semakin memberatkan keuangan negara. Indonesia yang awalnya sebagai negara pengekspor minyak berubah statusnya menjadi negara pengimpor minyak di tahun 2000an. Perubahan ini disebabkan oleh penurunan hasil produksi minyak, tetapi permintaan domestik justru meningkat. Hal ini mengakibatkan defisit perdagangan bahan bakar minyak dan gas semakin melebar.

  • Sentimen global

Faktor sentimen global ini lebih mengarah pada sektor investasi. Defisit transaksi berjalan secara pasti akan menggerus cadangan devisa. Padahal, cadangan devisa ini dijadikan sebagai indikator utama bagi para investor asing untuk masuk atau memutuskan untuk berinvestasi di suatu negara. Jika cadangan devisa dinilai rendah, artinya kondisi perekonomian negara tersebut mengalami masalah yang berpotensi menjadi ancaman bagi investasinya. Sebaliknya, apabila cadangan devisa suatu negara cukup atau bahkan dinilai tinggi, secara otomatis akan mampu meningkatkan kredibilitas sehingga memberikan rasa aman kepada investor untuk berinvestasi.

Dampak Defisit Transaksi Berjalan

Apakah defisit transaksi berjalan berbahaya bagi perekonomian suatu negara? Bisa ya, bisa juga tidak. Di Indonesia sendiri terdapat standar limit, jika defisit transaksi berjalan tidak lebih 3 persen dari PDB, maka masih dianggap aman.

Ketika transaksi berjalan mengalami defisit, pemerintah dituntut untuk meningkatkan transaksi finansial baik investasi langsung, investasi portofolio, maupun investasi lainnya. Namun, apabila transaksi finansial yang telah dilakukan tak juga mampu menutup defisit yang terjadi, maka simpanan yang ada pada cadangan devisa akan digunakan. Akibatnya, rupiah akan mengalami tekanan sebab kebutuhan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) meningkat.

Permintaan akan dolar AS yang tinggi berimbas pada pelemahan nilai tukar rupiah. Setiap tekanan terhadap rupiah akan semakin menjadikan dolar AS perkasa. Kondisi ini mengakibatkan transaksi perdagangan luar negeri menggunakan dolar AS semakin mahal, terutama nilai impor yang tentu akan semakin tinggi. Dampaknya akan terasa pada harga komoditas-komoditas impor yang ikut melonjak.

Dampak defisit transaksi berjalan akan semakin parah apabila pemerintah mengandalkan utang luar negeri untuk menambal defisit yang terjadi. Pinjaman luar negeri tersebut justru akan menjadikan negara terjebak dalam pembayaran bunga utang uang tinggi.

Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa defisit transaksi berjalan tak selamanya memberikan dampak yang buruk. Jika defisit transaksi berjalan terjadi selama periode inward investment justru berpeluang menciptakan lapangan kerja dan iklim investasi yang baik.

Defisit transaksi berjalan bukanlah kondisi yang harus dikhawatirkan secara berlebihan. Meski di satu sisi berisiko menimbulkan dampak yang buruk, namun disi lain bisa memberikan dampak yang positif. Hal ini tergantung pada kebijakan pemerintah dalam upaya menambal defisit tersebut. Upaya yang diambil tentunya harus disesuaikan dengan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya defisit transaksi berjalan agar bisa tepat dan memberikan dampak positif.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang defisit transaksi berjalan, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Bagaimana Bersiap Menghadapi Krisis Ekonomi
Agar Bisa Menabung, Hindari Beli Barang Berikut
Membuat Anggaran ketika Sedang Bangkrut
Kesalahan Mengatur Keuangan yang Umum Terjadi
Tipe Orang yang Akan Gagal Mengelola Uang
Skill Keuangan yang Harus Diajarkan Ke Anak
Contoh Keputusan Finansial yang Buruk
Mengapa Orang Yahudi Sukses?
Jangan Beli Mainan Anak-anak Seperti Ini
Kesalahan dalam Membeli Mobil


Bagikan Ke Teman Anda