Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Apa Itu Hiperinflasi? Mengapa Hiperinflasi Terjadi?

#hiperinflasi

Ketika harga-harga komoditas naik secara signifikan, umumnya akan diikuti dengan kenaikan pendapatan, sehingga kondisi ekonomi cenderung stabil dan tidak terjadi ketimpangan. Kondisi ini mencerminkan terjadinya inflasi dalam taraf normal atau wajar, di mana kenaikan harga-harga komoditas masih bisa dikendalikan.

Jika pemerintah suatu negara mampu meramu kebijakan moneter yang tepat dengan melihat dan mempertimbangkan situasi dan kondisi ekonomi yang ada, maka inflasi bisa menjadi ‘kawan’. Sebaliknya, apabila pemerintah abai bahkan tidak becus dalam mengelola aset negara dengan memberlakukan kebijakan moneter yang tidak sesuai dengan situasi dan kondisi ekonomi yang terjadi, maka inflasi justru menjadi ‘lawan’, yang disebut dengan hiperinflasi.

Apa itu hiperinflasi

Hiperinflasi secara sederhana dapat dimaknai sebagai inflasi yang tidak terkendali, yang menggambarkan suatu kondisi di mana terjadi lonjakan harga yang begitu cepat dan tiba-tiba, tetapi tidak disertai dengan kenaikan pendapatan secara umum, sehingga jumlah uang yang beredar di masyarakat terlalu banyak, namun nilai mata uang menurun drastis.

Kondisi hiperinflasi terjadi apabila tingkat inflasi lebih dari 50%, bahkan mencapai 100% dalam sebulan. Dalam kondisi ekonomi yang normal atau stabil, inflasi umumnya dilaporkan setiap tahun. Namun pada kondisi hiperinflasi, pelaporan tingkat inflasi dilakukan dalam interval yang lebih singkat, yakni setiap bulan. Pemantauan terhadap tingkat inflasi ini penting agar pihak yang memegang otoritas dapat membaca dan menelaah faktor-faktor ekonomi yang ada sehingga mampu menentukan kebijakan moneter yang tepat untuk mengatasi hiperinflasi.

Hiperinflasi berdampak negatif pada nilai mata uang. Suatu negara yang mengalami hiperinflasi, nilai mata uang lokalnya akan mengalami pengikisan dari nilai sebenarnya. Artinya, mata uang lokal mengalami penurunan daya beli, bahkan bisa jadi tidak berharga sama sekali. Dalam kondisi ini, mata uang asing justru mengambil peranan dalam perekonomian lokal, karena nilainya cenderung lebih stabil.

Faktor-faktor penyebab hiperinflasi

Apa yang menyebabkan terjadinya hiperinflasi? Banyak faktor penyebab hiperinflasi, di antaranya sebagai berikut.

  • Defisit anggaran pemerintah yang diatasi dengan pencetakan uang

Pemerintahan suatu negara tentu membutuhkan anggaran untuk melakukan pembangunan. Anggaran tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti pajak dan utang luar negeri. Namun, pemungutan pajak berlebihan dinilai memberatkan rakyat. Sementara utang luar negeri ke depannya juga akan membebani anggaran pemerintah. Keputusan terkait pengadaan sumber dana anggaran pemerintah ini masuk pada ranah kebijakan moneter yang diambil dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi ekonomi di negara yang bersangkutan. Keengganan untuk menarik pajak dan mengajukan pinjaman luar negeri, tak jarang justru menyebabkan pemerintah salah langkah. Pemerintah lebih memilih untuk mencetak uang baru untuk membiayai defisit anggaran yang dialaminya. Langkah ini justru menimbulkan ‘malapetaka’ ekonomi, di mana jumlah uang beredar di masyarakat semakin banyak sehingga memicu terjadinya hiperinflasi.

Defisit anggaran yang diatasi dengan mencetak uang, pemerintah tak ubahnya sedang memungut pajak inflasi. Berbeda dengan pajak lainnya, pajak inflasi tak kasat mata karena pemerintah tidak menerima tagihan riil dari pajak ini. Saat pemerintah mencetak uang, tingkat harga mengalami kenaikan, sebaliknya nilai uang mengalami penurunan. Masyarakat memiliki banyak uang, tetapi justru daya belinya menurun, sebab nilai uang yang dimiliki tak sesuai dengan tingkat harga komoditas yang ada di negara tersebut.

  • Perang

Negara yang sedang berperang tentu kondisi perekonomiannya tidak stabil. Faktor-faktor ekonomi dan produksi tidak bisa dimanfaatkan sebagaimana mestinya untuk mengembangkan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara. Selain itu, perang juga menghabiskan dana yang sangat besar. Tak hanya untuk pengadaan senjata dan alat-alat pertempuran, pemerintah juga harus memberikan kompensasi terhadap jasa para pejuang.

Di tengah situasi negara yang tidak aman akibat perang, pemerintah cenderung kurang fokus pada perekonomian negara. Produktivitas menurun tentu akan berdampak pada pendapatan nasional yang menurun pula. Sementara di sisi lain, pemerintah butuh dana besar untuk membiayai peperangan.

  • Kondisi sosial politik yang memanas

Memanasnya kondisi sosial politik suatu negara juga disinyalir turut menjadi penyebab terjadinya hiperinflasi. Bagaimana bisa? Konflik internal yang terjadi berpotensi menimbulkan kerusuhan dan huru-hara yang dapat berpengaruh pada ketidakstabilan ekonomi. Kerusuhan dan huru-hara biasanya diikuti dengan perusakan infrastruktur dan fasilitas umum. Jika memanasnya suhu sosial politik berlangsung berkepanjangan jelas menghambat laju pertumbuhan ekonomi, karena proses produksi tidak maksimal sehingga tingkat atau volume produksi menurun. Secara lebih lanjut, hal tersebut berdampak pada rendahnya pendapatan nasional. Sementara dampak dari konflik internal atas kerusakan infrastruktur dan fasilitas umum membutuhkan dana yang besar untuk memperbaiki dan membangun kembali.

Studi kasus hiperinflasi

Tak sedikit negara yang pernah mengalami keterpurukan akibat kasus hiperinflasi. Sebut saja Jerman, Cina, Hongaria, Yugoslavia, Yunani, Peru, Perancis, dan Nikaragua. Bahkan Indonesia sendiri di awal masa kemerdekaannya juga pernah mengalami hiperinflasi. Namun, goncangan hiperinflasi yang dialami oleh negara-negara tersebut terjadi di masa lampau atau sebelum tahun 2000-an atau yang dikenal dengan tahun milenial.
Hiperinflasi terbesar di masa milenial tepatnya tahun 2007 dialami oleh Zimbabwe. Sebagai negara yang baru memperoleh kemerdekaan tahun 1980, Zimbabwe memang belum memiliki kemandirian secara ekonomi. Bahkan, negara ini tergolong dalam kategori negara berpendapatan rendah (low income country). Negara yang terletak di benua Afrika ini memiliki mata uang Zimbabwe dolar (Z$) yang memiliki nilai tukar sebesar 1,25 terhadap dolar Amerika (US$).

Hiperinflasi yang mengguncang Zimbabwe disebabkan oleh banyak faktor. Diawali dengan kebijakan redistribusi tanah yang dilakukan pemerintah. Kebijakan tersebut mengalihkan kepemilikan tanah yang semula dikuasai oleh petani kulit putih (bangsa Eropa) kepada petani lokal (pribumi). Sayang, minimnya pengetahuan dan pengalaman petani lokal menyebabkan lahan tidak berproduksi alias tidak menghasilkan apapun, bahkan banyak yang dibiarkan mangkrak dan ditinggalkan begitu saja. Produksi pertanian merosot tajam, sehingga stok bahan pangan menurun. Akibatnya harga-harga komoditas pangan melonjak tajam.

Keterlibatan Zimbabwe dalam konflik dengan Kongo juga ditengarai menjadi penyebab hiperinflasi di negara tersebut. Selama berlangsungnya konflik, Zimbabwe mengalami krisis ekonomi, di mana anggaran pemerintah banyak tersita untuk mendanai konflik tersebut.

Akibat berbagai permasalahan yang terjadi, Zimbabwe mengalami defisit anggaran selama periode 1990-1997. Bahkan berlanjut pada tahun 2004, defisit anggaran yang diderita melonjak hingga mencapai 20% dari total GDP. Puncaknya pada tahun 2007, inflasi yang terjadi di negara tersebut semakin parah, hingga mencapai 115%. Akibatnya, persediaan pangan langka, pasokan bahan bakar untuk produksi dan konsumsi berkurang, dan ketiadaan alat-alat serta fasilitas kesehatan untuk masyarakat.

Di tahun berikutnya yakni 2008, hiperinflasi yang terjadi semakin menggila. Sepanjang sejarah perekonomian dunia modern, Zimbabwe mencatatkan rekor tertinggi di mana hiperinflasi yang terjadi mencapai 79 miliar %. Akibatnya nilai mata uang lokal begitu terpuruknya terhadap dolar Amerika, di mana Z$ 50 juta hanya setara dengan US$ 1,20 saja.

Lantas, bagaimana Zimbabwe bangkit dari keterpurukan ekonomi akibat hiperinflasi? Awalnya dengan kebijakan Quantitative Easing, yakni mencetak uang untuk membiayai pengeluaran pemerintah dan pinjaman luar negeri. Kebijakan ini semakin menambah jumlah uang beredar di pasar. Akibatnya, nilai mata uang lokal merosot tajam bahkan hampir tak memiliki nilai sama sekali.

Pemerintah Zimbabwe terus berusaha bangkit dengan melakukan kebijakan multi-currency, yakni penggunaan mata uang asing sebagai alat pembayaran dalam transaksi perdagangan dalam negeri. Kebijakan tersebut memberikan dampak positif bagi perekonomian Zimbabwe. Secara perlahan, kondisi ekonomi di negara tersebut mulai membaik. Akhirnya pada tahun 2012, angka inflasi menurun dan laju pertumbuhan ekonomi menunjukkan angka yang positif.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang hiperinflasi dan mengapa hiperinflasi terjadi, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Teori Keunggulan: Teori Adam Smith Vs Teori David Ricardo
Untung Rugi Praktik Dumping dalam Perdagangan Internasional
Analisis CAMEL untuk Kesehatan Perbankan
Kisah dan Pengalaman Orang-Orang Kaya yang Jatuh Miskin
Kebiasaan ini Dapat Menurunkan Harga Diri Anda!
Mengapa Sisa Makanan di Retoran Dibuang? Mengapa Tidak Disumbangkan?
Haruskah Drop Out (DO) untuk Fokus Membangun Startup?
Gagal Buat Startup? Bikin Startup Baru Lagi Saja!
Tips untuk Usaha Kecil Menengah (UKM) agar Semakin Maju
Keunggulan Kartu ATM dengan Teknologi Chip


Bagikan Ke Teman Anda