Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Apa Pandangan yang Salah Terhadap Entrepreneur?

Entepreneurship atau kewirausahaan seolah dijadikan kunci jawaban atas masalah perekonomian yang sering dihadapi. Setelah lelah bekerja sebagai karyawan tanpa jenjang karir yang jelas, masyarakat sering berpendapat bahwa jalan keluar dari kejenuhan dan posisi stagnan tersebut adalah membuka usaha sendiri. Walaupun cara pandang ini tidak bisa dibilang salah, tetapi menjadi entepreneur tidak sesederhanan mengundurkan diri dari perusahaan dan mulai menjual sebuah produk sebagai sumber penghasilan.

Menjadi wirausahawan membutuhkan banyak proses, usaha dan kemampuan yang bahkan jauh lebih besar daripada duduk di balik meja 8 jam sehari sebagai karyawan. Banyak gambaran yang salah beredar di masyarakat mengenai gaya hidup entepreneur yang mengakibatkan gagalnya usaha-usaha startup dan bertambahnya angka pengangguran. Berikut beberapa pandangan yang tidak benar terhadap entepreneur yang masih banyak ditemukan di masyarakat:

“Aku menjadi entepreneur agar aku bisa menjadi bos dan bertanggung jawab pada diri sendiri”

Banyak yang berpikir bahwa memiliki usaha sendiri berarti tidak perlu memikirkan pihak-pihak lain. Asalkan bisa bekerja dengan senang dan mendapat keuntungan, maka pekerjaan tersebut bisa dibilang sukses. Padahal, dalam berwirausaha ada banyak orang yang terlibat dan masing-masing menuntut wirusahawan tersebut untuk membuktikan kemampuan bisnisnya.

Mereka harus menghadapi pelanggan, pihak penanam modal, dan juga karyawan di perusahaan startup yang bergantung pada keputusannya untuk menjaga sebuah badan usaha tetap berjalan dan berkembang. Ketika memutuskan untuk menjual suatu produk, seorang wirausahawan harus bertanggung jawab atas kualitas produk tersebut dan menjamin kepuasan pelanggan sepenuhnya. Mereka juga harus bertanggung jawab atas laporan keuangan perusahaan pada bank dan mengurus pajak dengan jelas. Berbeda dengan karyawan yang tinggal mengerjakan porsi yang telah diberikan dan mendapat gaji rutin selama perusahaan tetap berjalan.

“Menjadi enteprenuer berarti memiliki lebih banyak waktu luang”

Sering kali ikatan jam kerja 8 jam selama 5 sampai 6 hari dalam seminggu menjadi motivasi seseorang untuk membuka usaha sendiri. Mereka percaya bahwa menjadi entepreneur adalah jalan keluar untuk menentukan waktu kerja sesuai dengan keinginan dan kondisi fisik. Padahal tanpa ikatan jam kerja berarti seorang wirausahawan harus siap untuk bekerja tanpa batasan waktu, bahkan ketika orang lain beristirahat mereka masih bisa bekerja.

Menjadi pengambil keputusan dalam suatu badan usaha berarti harus siap berkomitmen menghadapi segala situasi yang terjadi kapanpun dan dimanapun. Pengaturan waktu yang baik harus benar-benar dilakukan agar wirausahawan bisa menjawab dan mengatasi semua masalah tanpa mengorbankan waktu istirahat dan kehidupan pribadi. Tidak ada lagi hari libur karena jalannya usaha tersebut bergantung pada arahan dan kebijakan seorang entepreneur. Sisi baiknya adalah mereka melakukan hal-hal yang mereka sukai bukan sekedar memenuhi tuntutan perusahaan.

“Yang penting adalah ide cemerlang untuk membuka usaha yang sukses”

Memang benar bahwa nyawa dari entepreneurship adalah inovasi atau ide baru dalam melakukan sesuatu. Tetapi yang mebuat suatu usaha starup berhasil bukanlah ide atau pemikiran namun eksekusi atau strategi yang diambil. Banyak aspek yang harus dipikirkan dalam membangun sebuah usaha seperti sistem kerja, pembukuan, sistem pemasaran, dan lainnya.

Perencanaan yang baik, teliti dan terorganisirlah yang membuat usaha mereka berjalan lancar. Lagipula ide tersebut tidak akan bertahan setelah mendapatkan 5 pelanggan pertama, mereka akan menuntut inovasi dan fitur tambahan agar terus setia kepada produk yang dijual. Disinilah kemampuan seorang entepreneur yang sebenarnya diuji. Bagaimana cara mereka mengembangkan ide yang bagus tersebut menjadi sebuah konsep dan sistem kerja yang nyata dan dapat diterapkan dalam masyarakat. Banyak startup yang berumur pendek karena pelaku bisnisnya tidak memikirkan semua hal ini matang-matang dan langsung terjun sebagai wirausaha hanya karena telah dipuji memiliki ide yang bagus.

“Entepreneur adalah startup dalam bidang teknologi”

Setelah banyak pembuat aplikasi yang sukses dan mampu meraih keuntungan dalam waktu singkat, banyak yang berpikir bahwa entepreneur masa kini adalah pengembangan dalam teknolog. Walaupun banyak cerita yang memang benar terjadi, namun bukan berarti gerbang kewirausahaan tertutup dalam bidang lain. Entepreneurship adalah kemampuan untuk mengeksplorasi bidang-bidang yang selama ini dirasa tidak menjual menjadi komoditas nomor satu yang digemari dan dibutuhkan oleh masyarakat. Dan tentu saja kebutuhan tidak akan terbatas pada teknologi saja, namun juga hal-hal yang lebih abstrak seperti kemudahan, rasa aman, penampilan dan gaya hidup.

Contoh bidang lain yang sangat berpotensi sebagai ladang entepreneurship adalah energi dan kecantikan. Setiap orang butuh sumber energi baru yang lebih ekonomis dan bisa diperbaharui. Begitu juga dalam hal kecantikan, tidak ada yang menolak untuk tampil lebih menarik dan awet muda sepanjang masa. Karena itu yang terpenting adalah bisa mengamati situasi dan kondisi perekonomian secara umum. Menjadi entepreneur memang butuh kemampuan dan disiplin diri, tetapi insting bisnis yang baik juga memegang peranan yang cukup besar.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang pandangan yang salah terhadap entrepreneur, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Ini Dia Mitos yang Salah Kaprah Tentang Entrepreneur
Apa Perbedaan Entrepreneur dengan Intrapreneur?
10 Hal yang Harus Anda Ketahui Bila Ingin Menjadi Entrepreneur
Cara Networking Efektif untuk Entrepreneur Pemula
Buku yang Wajib Dibaca oleh Entrepreneur
Cara Membesarkan Anak agar Memiliki Mental Entrepreneur
5 Pengusaha Mancanegara yang Sukses Setelah Umur 40 Tahun
5 Rahasia untuk Memulai Bisnis
Jangan Ulangi Kesalahan Pengusaha Pemula Ini!
Orang Seperti Apa yang Seharusnya Tidak Menjadi Enterpreneur


Bagikan Ke Teman Anda