Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Apa yang Terjadi Jika Negara Menolak Melunasi Utang?

Setiap negara pastilah memiliki sumber pendapatan yang digunakan untuk membiayai belanja negara, baik itu dari sektor pajak maupun non-pajak. Pendapatan negara yang diperoleh dari rakyat dan dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk infrastruktur dan fasilitas umum yang dapat dimanfaatkan oleh rakyat. Namun, saking banyaknya pengeluaran yang harus dibiayai negara mulai dari gaji pegawai negeri dan pejabat negara, anggaran tiap-tiap kementerian, pembangunan infrastruktur di pelosok negeri hingga subsidi untuk rakyat kecil tak selalu dapat dibiayai dari pendapatan negara. Oleh sebab itu, mau tidak mau negara harus mencari pinjaman dari negara lain atau lembaga-lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia dan IMF.

Utang dalam konteks bernegara bukanlah hal terlarang. Bahkan utang merupakan salah satu komponen penting dalam menetapkan kebijakan fiskal sebagai bagian dari pengelolaan ekonomi negara. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui penciptaan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan, dan penguatan pertumbuhan ekonomi. Sementara fungsi utang bagi negara itu sendiri adalah untuk menutupi defisit anggaran dan kekurangan kas, serta menata portofolio guna mengurangi beban belanja pemerintah.

Setiap negara memang memiliki sumber pendapatan yang digunakan untuk menyusun APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), seperti tabungan, pajak, dan lainnya. Namun, pembangunan ekonomi membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Itulah sebabnya negara membutuhkan sumber pendapatan lain yang berasal dari pinjaman atau utang luar negeri. Bukan hanya negara miskin saja yang membutuhkan pinjaman, tetapi juga negara berkembang bahkan negara maju sekalipun juga membutuhkan biaya pembangunan yang diperoleh dari utang luar negeri.

Setelah memperoleh pinjaman luar negeri, tentu negara wajib mengembalikannya dalam jangka waktu tertentu. Namun, faktanya tak semua negara debitur rajin membayar kewajibannya, bahkan menolak untuk melunasi dan mengalami gagal bayar atas utangnya. Sebut saja Yunani yang merupakan salah satu negara maju di Eropa yang mengalami gagal bayar kepada IMF saat utangnya jatuh tempo di tahun 2015. Hal yang sama juga pernah dialami oleh Argentina di tahun 2002 dan 2014.

Lantas, apa yang terjadi jika suatu negara menolak melunasi utang atau mengalami gagal bayar atas utangnya yang telah jatuh tempo? Pasti ada konsekuensi atas keputusan penolakan tersebut. Inilah yang terjadi apabila negara menolak melunasi utangnya atau mengalami gagal bayar.

  • Kehilangan kepercayaan dari investor

Keputusan negara untuk menolak melunasi utang atau mengalami gagal bayar jelas menunjukkan bahwa negara tersebut tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar utangnya. Kondisi ini jelas menyebabkan hilangnya kepercayaan investor terhadap kinerja pemerintah negara tersebut. Dampak lebih lanjut, pasar saham di negara debitur akan mengalami kekacauan karena investor menarik dana investasinya.

  • Risiko bangkrut pada lembaga-lembaga keuangan

Penolakan untuk melunasi utang atau gagal bayar negara debitur atas utangnya menimbulkan efek domino pada lembaga-lembaga keuangan. Bagaimana bisa? Kondisi gagal bayar utang luar negeri tentu akan memberikan dampak sistemik pada lembaga keuangan. Lembaga keuangan seperti perbankan sebagai penghimpun dana masyarakat sekaligus menjadi sumber dana dalam negeri yang digunakan untuk pembangunan ekonomi rakyat. Jika negara mengalami gagal bayar utang luar negeri, tentu dana masyarakat yang telah digunakan terancam tidak bisa dikembalikan. Adanya ancaman tersebut, masyarakat akan berusaha menyelamatkan asetnya dengan menarik uangnya yang tersimpan di bank secara besar-besaran. Kondisi ini mengakibatkan lembaga perbankan kolaps sehingga mengalami kebangkrutan.

  • Terhentinya program jaminan sosial rakyat

Kondisi default atau gagal bayar utang saat jatuh tempo oleh suatu negara berdampak pada dihentikannya sumber pinjaman dari luar negeri. Artinya negara tersebut tidak akan mendapatkan pinjaman baru dari negara atau lembaga internasional manapun. Lebih lanjut, negara debitur tidak akan memiliki dana cukup untuk memberikan jaminan sosial kepada rakyatnya. Oleh sebab itu, negara terpaksa menghentikan program jaminan sosial bagi rakyat baik untuk sektor pendidikan, kesehatan, maupun fasilitas publik. Tidak adanya jaminan sosial menimbulkan keresahan masyarakat sehingga memicu kekacauan.

  • Perekonomian negara terpuruk

Negara yang menolak membayar utang atau mengalami gagal bayar jelas berimbas pada terpuruknya perekonomian negara tersebut. Kekacauan keuangan negara berdampak signifikan pada kelangsungan bisnis, di mana para pelaku bisnis tidak dapat menjalankan operasional usahanya. Bisnis yang tidak jalan tentu saja tidak akan ada penghasilan, sehingga bisnis menjadi macet. Jika pelaku bisnis tidak mendapatkan penghasilan, pastinya tidak akan bisa membayar pekerjanya. Alhasil, terjadilah pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran yang berarti pula tingkat pengangguran di negara debitur tersebut semakin tinggi.

Bisnis yang tidak jalan jelas berdampak pada produktivitas yang rendah, bahkan tidak ada sama sekali. Rendahnya bahkan ketiadaan produk yang dihasilkan berpengaruh pada terhentinya kegiatan ekspor. Di sisi lain, kebutuhan dalam negeri tidak tercukupi dengan produksi dalam negeri. Untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, mau tidak mau harus impor. Nilai impor yang lebih besar dibandingkan dengan nilai ekspor akan berakibat pada semakin terpuruknya nilai mata uang negara debitur tersebut.

  • Keamanan nasional menjadi tidak stabil

Ketidakpastian ekonomi yang terjadi akibat negara gagal bayar utang mengakibatkan keamanan nasional menjadi tidak stabil. Bagaimana bisa? Semua negara dan lembaga keuangan internasional jelas akan menghentikan memberikan pinjaman ke negara debitur yang menolak melunasi utangnya atau mengalami gagal bayar. Kondisi ini memaksa pemerintah negara debitur untuk mengurangi pengeluaran atau melakukan penghematan.

Penghematan yang dilakukan secara ketat menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan rakyat. Hal ini memicu rakyat untuk melakukan tindak kriminal, kekerasan, kerusahan, dan penjarahan guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Kondisi semakin diperparah dengan munculnya oportunis yang memanfaatkan keadaan demi keuntungan pribadi, seperti tindak korupsi yang merajalela.

Utang luar negeri meski menjadi salah satu komponen penting dalam menyusun anggaran pendapatan dan belanja negara, namun harus tetap mendapat perhatian secara serius. Jangan sampai utang luar negeri jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat pendapatan nasional yang dimiliki. Selama utang luar negeri masih lebih rendah dari nilai PDB (Produk Domestik Bruto), maka utang tersebut tidak akan membahayakan keuangan negara. Sebaliknya, apabila nilai utang lebih besar dibandingkan dengan pendapatan nasional yang diperoleh suatu negara, maka bisa dipastikan bahwa negara tersebut akan mengalami gagal bayar saat utang telah jatuh tempo.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang yang terjadi jika negara menolak melunasi utang, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Apa itu Depresi & Great Depression?
Apa itu Resesi Ekonomi? Apa Indikatornya?
Mengapa Asia Timur Lebih Maju Dibandingkan Asia Tenggara?
Mengapa Orang Kaya Masih Berhutang?
Negara-negara yang Dulunya Kaya Raya namun Kini Miskin
Yang Patut Anda Ketahui Mengenai Rescheduling Utang
Mengapa Asuransi Mobil Diwajibkan di Beberapa Negara?
Mengapa Negara Dunia Ketiga Jarang yang Maju? Ini Dia Masalah Negara Dunia Ketiga!
Apa Itu PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang)?
Apa Beda Utang dan Piutang?


Bagikan Ke Teman Anda