Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Bagaimana Cara Menghitung Laba Ditahan?

Pernah mendengar istilah laba ditahan? Bagi mereka yang awam mungkin istilah tersebut terdengar asing, karena yang lebih familiar adalah istilah laba rugi. Namun, bagi mereka yang telah akrab atau setidaknya pernah belajar akuntansi pastilah sudah tidak asing lagi dengan istilah ini. Laba ditahan merupakan laba yang diperoleh perusahaan atas kegiatan ekonomi yang dilakukan tetapi tidak dibagikan sebagai dividen kepada para investor atau pemegang saham.

Bukankah laba perusahaan menjadi hak investor yang menanamkan modalnya pada perusahaan, kok malah ditahan? Jangan salah, perusahaan yang mampu menghasilkan laba dan menahan sebagian dari laba tersebut justru tampak lebih ‘seksi’ di mata para investor dibandingkan dengan perusahaan yang membagikan seluruh labanya sebagai dividen. Keberadaan laba di tahan inilah yang menarik banyak investor untuk menginvestasikan dananya pada perusahaan-perusahaan yang ‘seksi’ tersebut.

Adanya laba ditahan menunjukkan bahwa perusahaan memiliki visi dan tujuan untuk mengembangkan kegiatan usahanya. Laba ditahan ini umumnya dimanfaatkan oleh perusahaan untuk reinvestasi agar mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang semakin menguntungkan. Selain itu, laba ditahan juga digunakan untuk melunasi utang-utang perusahaan. Logikanya jika utang lunas, maka pos pengeluaran berkurang sehingga potensi laba yang bisa dihasilkan semakin besar.

Laba ditahan sebenarnya bagian dari laba bersih perusahaan. Namun dalam laporan keuangan, laba ditahan merupakan akun tersendiri. Meski bagian dari laba bersih perusahaan, namun akun laba ditahan tidak dicatat dan dilaporkan dalam laporan laba rugi perusahaan, melainkan dalam neraca. Akun laba ditahan merupakan akumulasi dari laba bersih yang tidak dibagikan sebagai dividen dari tahun ke tahun. Jika saldo laba ditahan tercatat positif, artinya perusahaan memperoleh laba atas kegiatan usaha yang dilakukannya. Sebaliknya, apabila saldo akun laba ditahan negatif itu artinya perusahaan mengalami kerugian.

Nah, bagaimana cara menghitung laba ditahan? Pada prinsipnya penghitungan laba ditahan tidaklah sulit, jika Anda memiliki dokumentasi laporan keuangan perusahaan lengkap. Setidaknya ada dua cara yang bisa dilakukan untuk menghitung laba ditahan.

  • Cara praktis

Cara praktis ini bisa dilakukan apabila Anda berhasil memperoleh laporan keuangan perusahaan baik laba rugi maupun neraca dalam ‘versi’ detail. Laporan keuangan yang detail pastinya akan mencantumkan laba bersih perusahaan dan besarnya dividen yang dibagikan kepada para investor atau pemegang saham. Beruntung jika Anda berhasil mendapatkan laporan keuangan lengkap untuk beberapa periode hingga periode terakhir penghitungan, sehingga dapat dihitung pula saldo laba ditahan kumulatif.

Dari sumber laporan keuangan yang lengkap, Anda dapat dengan mudah menghitung laba ditahan dengan mengurangkan laba bersih dengan dividen yang telah dibayarkan. Adapun formulasi sederhananya sebagai berikut:

Laba ditahan = laba bersih – dividen yang telah dibayarkan

Laba ditahan kumulatif = laba ditahan periode lalu + laba ditahan periode berjalan

Contohnya, perusahaan A memiliki saldo laba ditahan kumulatif sebesar Rp 200 juta pada akhir periode 2016. Selama periode 2017, kegiatan usaha perusahaan A menghasilkan laba bersih sebesar Rp 77 juta dan sebesar Rp 37 juta dibayarkan kepada investor sebagai dividen. Jadi, saldo laba ditahan perusahaan A dapat dihitung:

Laba ditahan = Rp 77 juta – Rp 37 juta = Rp 40 juta

Laba ditahan kumulatif = Rp 200 juta + Rp 40 juta = Rp 240 juta

  • Cara manual

Cara menghitung laba ditahan melalui laba bersih akan sangat mudah apabila Anda mampu memperoleh detail informasi dan data keuangan perusahaan. Sayangnya, tak semua perusahaan bersedia memberikan data keuangan baik neraca maupun laporan laba rugi lengkap, sehingga data tentang besarnya laba bersih dan dividen yang dibayarkan kepada investor tidak diketahui. Lantas, bagaimana cara menghitung laba ditahan dari perusahaan tersebut? Jalan satu-satunya adalah dengan menghitung secara manual.

Penghitungan dengan cara manual memang membutuhkan tahapan yang cukup panjang dan informasi serta data keuangan yang lengkap, seperti angka penjualan, harga pokok penjualan, hingga biaya-biaya operasional perusahaan. Dari berbagai data dan informasi tersebut, proses penghitungan laba bersih bisa dilakukan, sehingga besarnya laba ditahan yang dimiliki perusahaan bisa diketahui secara pasti. Adapun tahapan penghitungan laba ditahan secara manual sebagai berikut:

1. Dimulai dengan menghitung laba kotor

Jika tak berhasil mendapatkan informasi dan data tentang laba bersih perusahaan, maka Anda harus menghitung laba kotor terlebih dahulu. Laba kotor dapat diketahui dengan menghitung selisih antara angka penjualan dengan harga pokok penjualan.

Laba kotor = angka penjualan – harga pokok penjualan

Ilustrasinya, angka penjualan perusahaan B pada periode 2017 mencapai Rp 57 juta. Di periode yang sama perusahaan juga harus membayar biaya-biaya untuk mencapai angka penjualan tersebut sebesar Rp 15 juta. Dari informasi tersebut, maka dapat dihitung laba kotor perusahaan:

Laba kotor = Rp 57 juta – Rp 15 juta = Rp 42 juta

2. Menghitung laba operasional

Biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam menjalankan kegiatan usahanya tak sebatas pada harga pokok penjualan saja, tetapi juga biaya-biaya operasional seperti biaya administrasi kantor, overhead pabrik, gaji, dan lain sebagainya. Nah, biaya-biaya operasional ini tentu akan mengurangi laba kotor selain harga pokok penjualan. Laba kotor yang dikurangi biaya operasional akan menjadi laba setelah operasional.

Dari ilustrasi tahap pertama diperoleh laba kotor sebesar Rp 42 juta. Jika pada periode yang sama perusahaan B mengeluarkan dana untuk membayar biaya operasional sebesar Rp 11 juta, maka laba setelah operasional dapat dihitung sebagai berikut.

Laba operasional = Rp 42 juta – Rp 11 juta = Rp 31 juta

3. Menghitung laba bersih sebelum pajak

Setelah diperoleh laba setelah operasional, selanjutnya harus diketahui nilai laba bersih sebelum pajak. Untuk memperoleh nilai laba tersebut, laba operasional harus dikurangi dengan bunga, depresiasi atau penyusutan, dan amortisasi. Apa itu depresiasi dan amortisasi? Keduanya merupakan penyusutan dari nilai aktiva tetap baik yang berwujud maupun tidak berwujud. Depresiasi merepresentasikan penyusutan aktiva tetap seperti peralatan kantor dan pabrik serta kendaraan, sedangkan amortisasi merepresentasikan penyusutan aktiva tetap berupa surat-surat berharga.

Menyambung dari ilustrasi sebelumnya, perusahaan B membayar biaya bunga sebesar Rp 5 juta, depresiasi sebesar Rp 2,5 juta, dan amortisasi sebesar Rp 7,3 juta. Dengan demikian, laba bersih sebelum pajak dapat diketahui dengan melakukan penghitungan sebagai berikut:

Laba bersih sebelum pajak = Rp 31 juta – (Rp 5 juta + Rp 2,5 juta + Rp 7,3 juta) = Rp 16,2 juta

4. Menghitung laba bersih setelah pajak

Pajak menjadi komponen biaya terakhir dalam tahapan menghitung laba bersih yang diperoleh perusahaan. Laba bersih setelah pajak diperoleh dengan mengurangkan laba bersih sebelum pajak dengan tarif pajak.

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, tarif pajak yang dikenakan pada perusahaan B sebesar 25%. Dari tarif pajak tersebut, kemudian dapat dihitung besarnya pajak dan laba bersih setelah pajak sebagai berikut.

Pajak = 25% x Rp 16,2 juta = Rp 4,05 juta

Laba bersih setelah pajak = Rp 16,2 juta – Rp 4,05 juta = Rp 12,15 juta

5. Menghitung laba ditahan

Setelah mengetahui laba bersih setelah pajak, penghitungan laba ditahan sampai pada tahap akhir. Di tahap akhir ini, pastikan Anda memiliki informasi tentang besar dividen yang dibagikan kepada para investor perusahaan. Dengan informasi dividen tersebut, Anda bisa menghitung laba ditahan yang dimiliki perusahaan.

Dalam contoh kasus yang dibahas ini, diasumsikan bahwa perusahaan B membayar dividen kepada para pemegang sahamnya sebesar Rp 5 juta. Dengan demikian, besar laba ditahan yang dimiliki perusahaan ini dapat dihitung sebagai berikut.

Laba ditahan = Rp 12,15 juta – Rp 5 juta = Rp 7,15 juta

Tidak ada aturan baku dalam menentukan besarnya laba ditahan. Hal tersebut tergantung pada kebijakan masing-masing perusahaan, mengingat besarnya laba bersih yang diperoleh oleh setiap perusahaan tidaklah sama. Jadi, penentuan besarnya laba ditahan menjadi otoritas dari dewan komisaris perusahaan.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang cara menghitung laba ditahan, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Tipe Orang yang Akan Gagal Mengelola Uang
Skill Keuangan yang Harus Diajarkan Ke Anak
Contoh Keputusan Finansial yang Buruk
Mengapa Orang Yahudi Sukses?
Jangan Beli Mainan Anak-anak Seperti Ini
Kesalahan dalam Membeli Mobil
Jangan Menyewakan Rumah kepada Orang Seperti Ini
Skill Penting Wajib Dikuasai agar Sukses
Mengapa Asuransi Mobil Seharusnya Wajib?
Cara Nego Gaji Terbaik


Bagikan Ke Teman Anda