Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Tutupnya Mal di Berbagai Negara

Kebangkrutan Nasty Gal yang dimiliki oleh Sophia Amoruso tentu membuat banyak orang terkejut. Setelah bertahun-tahun berjaya sebagai peritel online di e-bay, Nasty Gal mengalami kebangkrutan justru setelah menjalani beberapa tahun dengan beberapa toko offline brick dan mortar-nya. Terlepas dari apa yang menyebabkan Nasty Gal mengalami hal tersebut, gejala yang sama juga menjangkiti sejumlah peritel offline mulai dari skala besar hingga kecil. Mulai dari Glodok hingga Mal yang besar dan mewah. Lalu sebenarnya apa yang menyebabkan Mal-mal tersebut seolah tengah menghadapi umur senja kalanya?

Banyak faktor ditenggarai menjadi penyebab tutupnya banyak mal-mal besar yang terjadi tidak hanya di Indonesia namun juga diseluruh dunia. Berikut beberapa diantaranya :

1. Dunia Ritel Online

Kita semua sadar bahwa sejak munculnya internet, sebuah dunia baru telah tercipta. Dunia tanpa batasan, dan bisa memungkinkan siapa saja memulai debut menjadi pengusaha ritel di dalamnya tanpa perlu modal yang signifikan.

Beberapa tahun terakhir tidak hanya pengusaha ritel online yang dimudahkan dalam memulai usahanya, namun internet juga memudahkan dan memanjakan konsumen dalam berbelanja. Dunia ritel online telah dan benar-benar merombak cara berbelanja sebagian besar orang.

Para konsumen tidak lagi harus bersusah payah dalam mencari barang yang mereka butuhkan. Mereka bahkan bisa membandingkan harga satu toko dengan toko lainnya sambil menggunakan piyama mereka. Karena kenyamanan inilah, makin banyak orang enggan untuk pergi ke mal dan memilih membeli secara online.

2. Kepuasan akan Pengalaman Berbelanja yang Makin Sederhana

Kepuasan pengalaman berbelanja juga berubah semenjak dunia ritel online merajalela. Konsumen tidak lagi harus pergi ke toko dan langsung memegang barang yang akan mereka beli. Saat ini konsumen cukup puas dengan hanya melihat gambar dan membaca deskripsi. Beberapa situs review pun laris dikunjungi massa. Sebelum membeli, mereka akan membaca banyak review mengenai barang-barang yang akan mereka beli melalui platform website berita, blog, maupun social media lainnya seperti Facebook dan Twitter.

3. Meningkatnya Kesadaran akan Pengetahuan Keuangan

Seiring dengan meningkatnya minat baca semenjak kemunculan internet, pengetahuan akan keuangan pribadi pun bertambah. Jika sebelumnya informasi mengenai keuangan sulit untuk didapat dan diakses oleh orang awam, maka saat ini orang awam dengan mudah mendapatkan pengetahuan pengelolaan keuangan dari berbagai website keuangan.

Pengetahuan akan saham, reksadana, dan bentuk investasi lainnya membuka pandangan banyak orang mengenai cara pengelolaan uang. Hal ini berdampak pada meningkatnya kesadaran untuk menyimpan uang dan berinvestasi, yang berdampak pada menurunnya minat berbelanja secara signifikan.

4. Waktu yang Terbatas

Semakin hari, banyak orang memiliki waktu yang terbatas. Terlebih mereka yang memiliki pekerjaan 7 pagi hingga 5 sore. Kenyataannya, mereka berangkat lebih pagi dari jam kerja mereka dan pulang kerja lebih malam dari waktu kerja yang ditargetkan. Para pekerja ini kemudian hampir tidak memiliki banyak waktu untuk berbelanja dan berlama-lama di mal. Waktu weekend pun dihabiskan untuk mengejar ketertinggalan waktu kebersamaan bersama keluarga, anak dan istri. Sehingga mereka hanya pergi ke mal jika benar-benar merasa perlu dan terpaksa. Selebihnya, berbelanja secara online dirasakan lebih menyenangkan karena hemat waktu dan biaya.

5. Bergesernya Trend Berbelanja Pada Anak Muda

Sebelum Internet lahir, trend berbelanja anak muda didominasi pada trend fashion terbaru. Saat ini, trend tersebut bergeser dipacu oleh maraknya trend hidup minimalis dari segi fashion, dan meningkatnya kebutuhan akan barang elektronik. Beberapa anak muda yang merajai angkatan kerja di Indonesia saat ini ditenggarai malah lebih banyak menghabiskan uang mereka pada hobi travelling untuk memperoleh pengalaman baru dari negara dan tempat yang berbeda.

Karena fashion bukan lagi pusat utama perhatian para anak muda, mereka tidak lagi sering ke mal untuk berbelanja. Bilapun mereka ke mal, tujuan utama mereka adalah sekedar hangout bersama teman sambil menikmati kopi. Itulah sebabnya Starbucks makin berjaya.

6. Biaya Operasional Mal yang Semakin Besar

Para peritel yang kemudian pasarnya terimbas oleh banyak faktor di atas, kemudian mulai dipaksa bertahan. Sementara itu, biaya operasional mal makin meningkat seiring waktu. Peritel memerlukan banyak biaya untuk perawatan gedung, untuk membayar pegawai yang dipekerjakan, memerlukan biaya untuk distribusi barang, biaya listrik, biaya air dan lain-lain.

Dengan makin besarnya pengeluaran dan makin sedikitnya pemasukan, maka peritel offline mulai berfikir untuk menutup gerai mereka di mal-mal besar. Mal-mal besar yang ditinggalkan oleh peritel mereka tak lagi menarik bagi konsumen, sehingga makin sedikit orang yang mengunjungi mal tersebut. Lama kelamaan satu persatu mal tutup karena mereka sudah mengalami kerugian yang sudah tidak bisa mereka tanggulangi lagi.

Kemampuan berevolusi sejatinya harus dimiliki oleh bisnis apapun. Hal ini karena perubahan terus bergerak dengan standar kecepatan yang sulit untuk diperhitungkan. Jika para peritel tidak mampu beradaptasi dengan perubahan yang ada, maka mereka akan tergilas oleh perubahan itu sendiri.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang beberapa faktor yang mempengaruhi tutupnya mal di berbagai negara, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Mengapa Banyak Mall Tutup? Ini Dia Biang Keladinya!
Faktor Ini Perlu Menjadi Pertimbangan Sebelum Membeli Rumah!
Perhitungan THR Karyawan (Tunjangan Hari Raya)
Apa itu Kebijakan Quantitative Tightening (QT)?
Cara Kerja Penjahat ATM Skimmer
Perbedaan Kebijakan Fiskal vs Kebijakan Moneter
Mengenal Hirarki Kebutuhan Dalam Piramida Maslow
Trend Cord Cutting TV Kabel di Indonesia
Perbedaan Tax Avoidance dengan Tax Evasion
Apa itu Traveloka PayLater (Pinjaman dari Traveloka)?


Bagikan Ke Teman Anda