Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Biaya Surcharge Apakah Ilegal?

Kalau dilihat dari namanya, surcharge sendiri ada kaitannya dengan biaya yang melekat dalam kartu kredit. Namun, biaya satu ini spesial, karena berbeda dengan biaya-biaya lain dari kartu kredit yang merupakan tanggung jawab kita.

Surcharge serupa dengan “biaya siluman” yang terdapat saat kita bertransaksi menggunakan kartu kredit. Semisal kita berbelanja 100 ribu rupiah, namun total belanjaan kartu kredit di bon menjadi 103 atau 130 ribu rupiah, maka 3 atau 30 ribu rupiah itu adalah surcharge-nya.

Tidak ada persentase ideal dalam memungut surcharge, karena menurut Bank Indonesia memang haram hukumnya bagi merchant manapun untuk memungut surcharge. Di saat yang sama, hampir semua merchant yang ingin mendapat keuntungan atas hasil dagangnya memungut surcharge lewat mesin EDC ataupun tunai yang biasa kita sebut gestun (gesek tunai). Inilah cara-cara untuk menghindari kejadian seperti demikian:

  • Pilih Merchant Sebelum Bertransaksi

Di negara Indonesia yang penduduknya banyak ini, rasanya hampir tidak mungkin hanya ada 1 penjual untuk semua barang yang ada di Indonesia. Termasuk di antaranya adalah merchant yang memperdagangkan kebutuhan pokok seperti makanan dan pakaian.

Pemilihan merchant sebelum bertransaksi ini menjadi masalah yang menggalaukan ketika kita telah berlangganan pada salah satu merchant sebelumnya. Namanya juga manusia bisa berubah, demikian juga para merchant. Yang kemarin terlihat murah senyum dan memiliki jiwa melayani, sekarang bisa saja mengenakan surcharge maupun gestun secara liar.

Maka, kita perlu berhati-hati dalam memilih merchant sebelum memutuskan untuk bertransaksi. Pastikan keberadaan merchant pada bank penerbit kartu kredit kita, yakni seberapa sering ia nongol di acara-acara yang melibatkan kerja sama antar merchant dan bank penerbit. Selain itu, agar tidak terkena surcharge ketika belanja, pastikan juga merchant tersebut tidak mengenakan surcharge. Meskipun jarang ada merchant yang demikian, namun perlahan tapi pasti, kita akan menemukannya.

  • Komunikasi Secara Baik-baik dengan Merchant Yang Ada dan Awasilah Mereka

Sama seperti kita, merchant juga manusia yang membutuhkan komunikasi yang baik dengan sesamanya. Terkhusus untuk surcharge ataupun gestun, yang melibatkan uang yang kita bayarkan sekaligus uang yang diterima merchant secara pribadi dan uang yang memengaruhi kerja sama merchant dan bank untuk selanjutnya.

Komunikasi ini penting terutama sebelum kita membeli apapun dari merchant tersebut. Ajaklah ia bicara dan tanya-tanyailah seputar hal-hal yang ia jual, namun tetaplah santai. Kemudian, arahkan pembicaraan secara perlahan ke poin surcharge dan gestun.

Di sinilah persoalan surcharge maupun gestun menjadi rumit. Memang, ada beberapa merchant yang jujur yang mau mengakui kalau dirinya memang membebankan surcharge “sedikit” karena tidak mau dirugikan. Namun, ada beberapa orang yang ngeyel ketika ditanyai hal-hal demikian meskipun kita tanyanya tanpa paksaan.

Parahnya lagi, ada beberapa merchant yang pintar berbicara dan meyakinkan kita kalau tidak ada surcharge, namun ternyata setelah kartu kredit digesekkan, surcharge-nya tiba-tiba melambung tinggi. Belum lagi terkadang ada notifikasi “tarik tunai sebesar xxxx” di bawah nota atau bon penjualan yang ditutupi dengan jempol atau jari lainnya, yang menyatakan adanya gestun yang dilakukan merchant.

Kalau menghadapi merchant yang demikian, segera ingatkan dirinya mengenai “biaya-biaya siluman” tersebut. Seorang rekan perempuan dari ibu saya yang terkena dampak gestun langsung sadar dan menunjuk kepada notifikasi “tarik tunai” pada nota. Kemudian, si merchant nakal pun segera memperbaikinya dan si ibu tidak jadi dikenai tagihan berlebih. Ya… Mumpung masih belum keluar dari counter, begitu ada kesalahan jumlah transaksi, lebih baik langsung ditindak saja.

Pisahkan Surcharge dengan Total Asli Pembelian

Meskipun telah dilarang oleh Bank Indonesia, kenyataannya masih banyak merchant yang mengenakan surcharge saat bertransaksi dengan kartu kredit. Satu sisi juga bank penerbit takut memutuskan kerja sama dengan merchant yang secara laten membebankan surcharge namun omsetnya tinggi.

Apa boleh buat, bagi kita yang sudah terlanjur terkena surcharge, kita bisa meminta pihak merchant untuk memisahkan nota surcharge dengan nota yang berisi total pembelian bersih. Bukan hanya untuk memudahkan kita dalam membayar tagihan-tagihan kartu kredit secara lengkap dan tepat waktu, namun juga untuk dokumentasi kita agar memiliki bukti pembayaran “lebih”.

Pemisahan semacam ini juga akan memudahkan kita kalau-kalau ada cerita merchant yang sama memungut surcharge. Nota surcharge yang terpisah akan memampukan kita melihat persentase surcharge yang dikenakan secara jelas sekaligus membantu pelaporan kepada pihak ketiga sebagaimana diperlukan agar menjadi jelas.

  • Laporkan ke Badan-badan yang Berwenang Apabila Sudah Keterlaluan

Dalam persoalan dagang, benar dapat menjadi salah dan sebaliknya. Namun ketika sudah berhadapan dengan persoalan hukum, yang salah tetaplah salah. Karena peraturan Bank Indonesia memiliki kekuatan hukum, maka sudah selayaknya merchant-merchant yang memungut surcharge, gestun, atau keduanya secara liar ditindak menurut hukum yang berlaku.

Apabila pemungutan liar semacam ini sudah keterlaluan, maka sebagai tindak lanjut, kita melaporkan kepada badan hukum yang berwenang. Sesuai saran Bank Indonesia, kita mulai dari bank penerbit yang bekerja sama dengan merchant yang bersangkutan. Apabila itu tidak berhasil, maka selanjutnya kita perlu melapor pada Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI), Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang bergerak di bidang pengaduan konsumen, atau Bank Indonesia sendiri selaku pembuat peraturan mengenai surcharge maupun gestun.

Dengan melakukan keempat cara di atas secara bertahap sesuai situasi yang dialami, maka bukan hal yang mustahil bagi kita untuk terlepas dari jerat surcharge maupun gestun yang haram hukumnya itu. Kita pun dapat bertransaksi menggunakan kartu kredit secara aman tanpa harus khawatir terkena tangan-tangan jahil merchant yang abal-abal.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang biaya surchange kartu kredit, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Dimana Jasa Pembuatan Kartu Kredit?
Ketika Kartu Kredit Ditolak Merchant, Harus Bagaimana?
Tip Ketika Menunggak Kartu Kredit
Apa Yang Biasanya Dilakukan Bank, Bila Ada Kredit Macet?
Kartu Kredit Pertama, Apa yang Harus Diperhatikan?
Tip Mengatasi Kartu Kredit Macet
Waspadai Jasa Penutupan Kartu Kredit
Apa yang Harus Dilakukan Ketika Kartu Kredit Overlimit?
Kartu Kredit Bank BNI
Kartu Kredit Tidak Diaktifkan?


Bagikan Ke Teman Anda