Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Bingung Cara Menjelaskan Kapitalisme pada Anak? Ini Caranya!

Jika anak Anda sering bertanya mengenai berbagai hal dan bisa melontarkan pertanyaan hingga puluhan bahkan ratusan dalam sehari, jangan merasa aneh atau khawatir. Rasa ingin tahu yang besar memang wajar terdapat pada anak-anak, dimana itu berarti otaknya sedang berkembang sehingga menjadi lebih kritis dan kreatif. Jadi jangan heran jika anak Anda menanyakan berbagai hal atau kata yang ia dengar dari orang lain atau menyaksikan dari tayangan televisi, termasuk tentang perekonomian dan kapitalisme.

Sebagai orangtua, tentunya sudah seharusnya menjawab pertanyaan serta rasa penasaran anak agar rasa keingintahuannya tidak teredam dan membuatnya justru malas bertanya lagi. Kalau sudah begitu, anak bisa jadi malah bertanya kepada sumber lain yang tidak jelas kredibilitasnya atau bahkan mematikan sisi kreatifitas dan kritis dari dalam dirinya. Namun menjelaskan sesuatu kepada anak kecil tidak bisa disamakan dengan orang dewasa, karena mereka masih memiliki berbagai keterbatasan dalam menerima informasi. Oleh karena itu, perlu dilakukan cara yang tepat dalam menjelaskan sesuatu yang cukup serius seperti kapitalisme kepada anak Anda.

Konsep Kapitalisme

Sebelum bisa menjelaskan kepada anak, Anda harus memahami dengan baik bagaimana konsep kapitalisme itu sendiri. Ada beberapa pandangan berbeda dari para ahli mengenai konsep ini, dari pandangan yang positif hingga negatif. Namun pada dasarnya, konsep kapitalisme adalah sebuah keniscayaan yang memang terjadi dalam perekonomian masyarakat yang sebenarnya; dari jaman dulu hingga masa sekarang ini. Baik buruknya dari konsep kapitalisme itu sendiri tergantung dari bagaimana praktik yang dilakukan dan diterapkan pada masyarakat luas.

Sederhananya, kapitalisme adalah sebuah sistem perekonomian dimana mereka yang memiliki modal dapat menggerakkan roda perekonomian dengan mengelola modal tersebut, menjual hasil olahan kepada orang lain, hingga mempekerjakan orang lain untuk mengurus usahanya. Jika pada masa awal pertumbuhan manusia kegiatan produksi hanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan, seiring berjalannya waktu kegiatan tersebut bertujuan untuk mendapatkan keuntungan atau laba. Hal inilah yang mendasari konsep kapitalisme, yang kemudian dipandang oleh beberapa ahli sebagai cara untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dari modal yang dimiliki.

Sedangkan pandangan positif mengenai kapitalisme menjelaskan bahwa pola dan sistem itulah yang memang terjadi di masyarakat, dimana tanpa adanya pemilik modal maka perekonomian akan sulit berjalan dengan baik. Bahkan bisa jadi malah akan muncul monopoli atau penguasaan mutlak terhadap sumber daya oleh salah satu pihak saja yang memiliki kekuatan, sehingga menyulitkan orang lain untuk mendapatkan keuntungan juga. Pada konsep kapitalisme, modal dimiliki oleh pihak swasta (private) dan pemerintah hanya berperan sebagai pengawas yang menjaga agar perekonomian tetap stabil.

Penyesuaian Bahasa yang Digunakan

Menjelaskan sesuatu kepada anak-anak, tentang apapun itu, perlu disesuaikan dengan pola pikir, sudut pandang, dan perbendaharaan kata mereka. Jadi saat Anda hendak menjelaskan mengenai konsep kapitalisme kepada anak, pastikan Anda sudah menyadurnya sesuai dengan bahasa yang dapat diterima oleh mereka. Anda juga perlu menyesuaikan dengan keadaan atau kondisi yang sedang dialami anak agar mereka dapat menyerap informasi yang diberikan dengan baik.

Misalnya saja jika anak Anda masih dalam usia 4 sampai 7 tahun, Anda bisa menjelaskannya dengan cara menganalogikannya dalam bentuk dongeng. Seperti salah satu contoh analogi berikut ini:

“Jaman dulu, ada seorang yang bernama Diana dan punya pohon anggur peninggalan dari orangtuanya. Orangtuanya menanam pohon anggur itu supaya dia bisa makan dan nggak kelaparan. Diana bisa makan setiap hari, dan selalu ada sisa dari anggur yang dia punya. Diana mulai berpikir kalau dia juga membutuhkan baju, jadi dia tukar anggurnya dengan baju yang dibuat tetangganya. Ternyata orang-orang di desanya mendengar hal itu dan ingin anggur milik Diana juga, jadi mereka juga menukar barang mereka dengan anggur Diana. Diana pun jadi punya sepatu, air minum, dan banyak lagi. Dan orang-orang di desa itu juga jadi bisa merasakan anggur yang dimiliki Diana.”
Jika anak Anda sudah sedikit lebih besar, sekitar usia 8 sampai 10 tahun, Anda dapat menjelaskannya dengan menghubungkan pada keseharian yang ia alami.

Mulailah dari hal yang sederhana, seperti bagaimana konsep uang sebagai alat tukar yang memudahkan kita untuk bertransaksi mendapatkan apa yang dibutuhkan. Juga konsep mengenai kepemilikan benda, apa maknanya bagi sang pemilik dan apakah orang lain berhak memilikinya juga. Kemudian jelaskan juga bagaimana kalau orang lain ingin merasakan atau memiliki barang itu, apa yang harus mereka lakukan.

Misalnya suatu hari Anda membelikan anak sebuah buku dan pensil baru, lalu menjelaskan bahwa kedua barang itu adalah miliknya. Sampaikan padanya bahwa ia memiliki hak atas barang itu, jadi orang lain tidak bisa sembarangan memakai atau bahkan mengambilnya. Temannya boleh saja meminjamnya, asalkan sudah meminta izin terlebih dahulu kepada anak Anda sebagai pemilik barang. Mereka juga bisa bertukaran dua barang yang berbeda agar mendapatkan barang yang diinginkan, seperti bertukar pensil dengan penghapus, atau bahkan membayarnya dengan sejumlah uang.

Praktek Langsung

Setelah menjelaskan secara garis besar kepada anak mengenai konsep kapitalisme, Anda dapat mendorongnya untuk melakukan praktek langsung. Praktek memang sarana pembelajaran yang efektif agar anak mudah memahami sesuatu, karena ia melakukannya secara langsung. Anda tidak perlu langsung menyuruhnya berjualan sebagai bentuk dari praktek kapitalisme, namun bisa dimulai dari hal-hal yang kecil.

Misalnya saja ketika Anda berbelanja bersama anak, cobalah latih anak untuk menyerahkan uang pembayaran kepada kasir agar ia lebih memahami mengenai konsep alat tukar. Jika mereka sudah terbiasa, Anda bisa meningkatkan level latihan dengan menyuruh anak membeli sesuatu sendiri dari warung. Jangan langsung menyuruhnya membeli hal yang besar dalam jumlah banyak tapi mulai dari yang mudah, misalnya saja membeli susu kotak atau biskuit kesukaannya.

Anda dapat terus meningkatkan level latihan sesuai dengan kemampuan dan kondisi anak Anda, supaya pemahamannya lebih mendalam lagi. Anak Anda mungkin akan memiliki lebih banyak pertanyaan lagi seiring dengan penjelasan serta latihan yang Anda berikan, dan itu adalah hal yang wajar. Itu berarti otaknya terangsang untuk berpikir lebih dalam dan menggali informasi yang masih tidak ia ketahui, yang membuatnya penasaran. Dengan begitu, pengetahuan anak Anda akan terus bertambah dan kemampuan otaknya terus terasah dengan baik.

Demikianlah beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk menjelaskan mengenai konsep kapitalisme kepada anak. Hal-hal tersebut bukan saja dapat digunakan untuk menjelaskan tentang kapitalisme, namun juga dapat diterapkan dalam menerangkan berbagai hal kepada anak. Anak sering bertanya lebih dahulu kepada orangtua yang dipercayainya, jadi jangan kaget kalau anak Anda akan memberondong dengan berbagai pertanyaan. Selamat mencoba dan semoga berhasil!

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang cara menjelaskan kapitalisme pada anak, semoga bermanfaat bagi Anda semua.

 



Kapitalisme vs Sosialisme? Ini Alasan Mengapa Kapitalisme Lebih Disukai dari Sosialisme!
Cara Orang Kaya Membesarkan Anak agar Tidak Manja
4 Sebab Anak dari Keluarga Kaya Lebih Pintar daripada Anak dari Keluarga Miskin
Apa Akibat Jika Anak Terlalu Dimanja Sewaktu Kecil?
Kemiskinan Membuat Anak Stres dan Mengalami Gangguan Otak
Cara Memersiapkan Anak supaya Jadi Milyuner
Mendidik Anak Menjadi Pengusaha? Mengapa Jarang yang Melakukannya?
Anak Mau Punya Skill Bisnis? Ini Tip Buat Orangtua!
Kesalahan Pola Asuh Anak Mengenai Keuangan yang Mungkin Anda Lakukan
4 Tip Memilih Tabungan Pendidikan untuk Anak


Bagikan Ke Teman Anda