Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Bisakah Perjanjian Pisah Harta Setelah Menikah? Atau Harus Sebelum Menikah?

Pengelolaan keuangan yang baik tidak hanya melibatkan individu dan kebutuhannya saja, melainkan juga melibatkan orang-orang terdekat. Bahkan dalam pernikahan, keuangan merupakan salah satu aspek terpenting yang harus dipikirkan oleh kedua belah pihak di samping juga perjanjian.

Perjanjian pisah harta merupakan perjanjian terkait keuangan yang populer di kalangan suami-istri masa kini. Kendati lebih populer dengan perjanjian pra nikah, sebenarnya perjanjian ini juga dapat dilakukan saat sudah menikah, dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:

1. Harus Lewat Proses Hukum yang Formal dan Jelas hingga ke Harta dan Warisan

Karena perjanjian pisah harta adalah sesuatu yang menyangkut kehidupan bisnis dan pengelolaan keuangan suami-istri untuk kemudian harinya, perjanjian yang sah menurut Pasal 29 UU Perkawinan, Putusan Mahkamah Konstitusi No. 69/PUU-XIII/2015 ini harus melewati proses hukum yang formal, yakni suami-istri datang ke kantor notaris untuk menandatangani perjanjian pisah harta yang selanjutnya akan menghasilkan surat perjanjian pisah harta.

Sebelum menandatangani, suami-istri yang sudah menikah harus sudah jelas mengenai harta atau utang yang hendak dipisahkan kepemilikannya. Lazimnya karena nantinya keadaan pisah harta ini akan memungut banyak biaya, maka pastikan baik pihak suami atau istri memiliki keadaan keuangan yang merdeka dari segi aset yang dimiliki, paling tidak menduduki 1% dari ekonomi masyarakat tempat mereka tinggal.

Kendati demikian, tidak sembarang harta dapat dipisahkan dalam hal perjanjian harta. UU Perkawinan pada Pasal 35 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 menyatakan, warisan berada “di bawah pengawasan masing-masing, kecuali ada perjanjian lain. Hal warisan ini juga berpengaruh bagi kelangsungan hidup keturunan di bawahnya.

Bagi suami-istri yang hendak mengadakan perjanjian pisah harta setelah perkawinan berlangsung, mereka perlu memikirkan mengenai pembagian warisan bila suatu hari nanti kematian menjemput mereka. Anak-anak dan cucu mereka akan menerima warisan dalam jumlah rata tanpa memandang latar belakang dan preferensi mereka pribadi, sehingga perjanjian pisah harta setelah menikah boleh dilakukan hanya jika kita siap membagi warisan dalam jumlah yang banyak.

2. Bersiap-siaplah Membayar Pajak yang Lebih Besar

Pengalaman hampir semua pasang suami-istri Indonesia yang memberlakukan perjanjian pisah harta tetap tinggal serumah. Bila keadaan ini dikaitkan dengan peraturan pajak yang berlaku di Indonesia, maka bisa jadi pajak yang harus dibayarkan lebih besar.

Karena istri yang memiliki harta terpisah dari suaminya, maka suami-istri tersebut berpotensi untuk membayar 2 kali pajak, yakni untuk PPh suami dan PPh istri dengan jumlah yang pada umumnya kurang lebih sama. Ada saat di mana SPT tahunan istri akan menampilkan penghasilan yang dikenai PPh Final, sehingga total pembayaran pajaknya pun akan lebih besar daripada keadaan di mana suami-istri tidak melakukan pisah harta.

Pembayaran pajak ini untuk selanjutnya perlu disesuaikan kembali dengan keadaan ekonomi sebagai kesatuan suami-istri dan keadaan ekonomi Indonesia secara umum. Dengan demikian, pasangan suami-istri akan lebih siap untuk membayar pajak sesuai dengan kemampuan ekonomi dan keadaan sekitar mereka, sehingga sah-sah saja apabila mengadakan perjanjian pisah harta dalam keadaan seperti ini.

3. Jangan Lupa Mendukung Keadaan Finansial Pasangan Anda

Secara hukum, harta boleh saja dipisah, dan bayar pajak boleh saja terpisah antar suami dan istri. Namun, keseharian hidup tetaplah menjadi sesuatu yang perlu dipertimbangkan, khususnya bagi suami-istri yang tinggal serumah dan telah memiliki anak per pengesahan perjanjian pisah harta kedua belah pihak.

Dalam hal ini, jangan sampai lalai dalam mengingatkan satu dengan yang lain untuk membayar biaya-biaya yang perlu untuk menunjang rumah tangga, seperti biaya listrik dan air, premi asuransi, biaya-biaya terkait kartu kredit, dan sebagainya. Memang tanggungjawab kita terpisah sebagai suami-istri yang hartanya terpisah, namun jangan sampai kita melalaikan tugas dan tanggungjawab sebagai suami-istri yang baik, khususnya dalam hal keuangan.

Bila diperlukan, dukunglah suami atau istri Anda untuk mengelola komponen harta yang ia rasa sulit. Ada kalanya usaha suami atau istri mengalami kesulitan, dan satu-satunya orang yang dapat menolongnya keluar adalah Anda.

Bila Anda melakukannya, niscaya Anda dan pasangan (serta anak, bila ada) tidak akan terlalu lama berlarut dalam kesulitan keuangan hanya karena ada perjanjian dan/atau surat pisah harta, karena suami-istri saling tolong-menolong dalam mendukung dan mengingatkan untuk mengelola keuangan demi masa depan yang lebih baik. Lagipula, suami-istri diciptakan untuk ber-partner dan saling memberi dukungan antar satu dengan yang lain, bukan?

Karena itu, bila Anda tidak siap untuk saling mendorong, mendukung, dan mengingatkan dengan pasangan mengenai keadaan finansial Anda berdua (dan keluarga), maka lupakanlah perjanjian pisah harta setelah menikah, meskipun perjanjian tersebut telah boleh dilakukan per tahun 2015 di negara kita. Tanpa adanya dukungan finansial yang memadai antar kedua belah pihak, mengadakan perjanjian pisah harta setelah menikah cenderung rawan perceraian yang berujung pada bertambahnya kerumitan pembagian harta setelah bercerai.

Singkatnya, perjanjian pisah harta setelah menikah itu boleh dilakukan, selama kita mempertimbangkan soal aspek dan proses hukumnya, konsekuensi pembayaran pajak yang lebih besar, dan siap untuk saling mendukung dan mengingatkan pasangan terkait kondisi finansial mereka. Bila ketiga hal tersebut telah kita pahami dan lakukan, maka tidak masalah mengadakan perjanjian pisah harta dengan pasangan.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang perjanjian pisah harta setelah menikah atau sebelum menikah, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Perjanjian Pisah Harta, Apa Itu?
Mengapa Perempuan Mudah Terjebak Utang Kartu Kredit?
Financial Planning Before Disaster (Persiapan Finansial Sebelum Bencana)
Bagaimana Menggunakan ATM dengan Aman?
Sisi Buruk Kerja di Perusahaan Startup
Bagaimana Bersenang-Senang Sekeluarga dengan Murah?
Mengapa Financial Management (Manajemen Keuangan) Harus Diajarkan di Sekolah
Empat Tahap Pertumbuhan Bisnis
Apa yang Harus Dilakukan Bila Dompet Hilang?
Bagaimana Restoran Buffet (All You Can Eat) Mendapatkan Untung?


Bagikan Ke Teman Anda