Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Kebiasaan-kebiasaan Ini Tanpa Disadari Termasuk Pemborosan

Gaya hidup menentukan pola hidup. Sekilas tampak mirip, tetapi sejatinya berbeda. Gaya hidup dapat dipahami sebagai bagian dari kebutuhan sekunder manusia yang bisa jadi mengalami perubahan tergantung pada perkembangan zaman dan keinginan seseorang untuk mengubahnya. Sementara pola hidup lebih mengarah pada cara berperilaku sehari-hari, sehingga sering kali disamakan artinya dengan kebiasaan. Kebiasaan hidup yang buruk menandakan pola hidup yang buruk pula, pun demikian sebaliknya.

Tanpa disadari gaya hidup mempengaruhi kebiasaan terutama dalam mengatur dan menggunakan keuangan, sehingga terjebak dalam pemborosan. Boros artinya mengeluarkan uang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan, hanya untuk memenuhi keinginan saja. Berikut kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan banyak orang yang tanpa disadari termasuk dalam pemborosan.

  • Merokok

Bukan rahasia lagi bahwa rokok tidaklah baik untuk kesehatan baik bagi perokok aktif maupun pasif. Bahkan pemerintah telah memberikan peringatan tentang bahaya merokok. Sayang, menghisap rokok seolah sudah menjadi kebiasaan akut bagi mereka yang telah kecanduan dengan produk tembakau tersebut. Sebab itu, mereka mengabaikan kesehatannya demi merasakan sensasi nikmatnya merokok.

Harga sebungkus rokok paling murah adalah Rp 12.500,- dan paling mahal sebesar Rp 23.000,-. Dari harga termurah saja masih lebih mahal dari harga sebungkus nasi padang. Bagi mereka yang telah menjadi pecandu berat dari rokok, sehari bisa menghabiskan beberapa bungkus rokok.

Katakanlah sehari 2 bungkus rokok. Artinya, mereka harus membelanjakan uangnya untuk membeli rokok antara Rp 25.000,- hingga Rp 46.000,-. Maka dalam sebulan mereka harus mengeluarkan uang sebanyak Rp 750.000,- hingga Rp 1.380.000,- hanya untuk membeli rokok saja, belum termasuk kebutuhan pokok lainnya baik untuk diri sendiri maupun keluarga.

Sayang, kebiasaan boros merokok ini tak terlalu diambil pusing oleh para perokok sendiri. Bahkan, mereka lebih memilih gemetar karena lapar dibandingkan gemetar karena menahan diri untuk tidak merokok.

  • Minum kopi di cafe

Bagi sebagian orang minum di cafe memberikan kenikmatan dan kenyamanan tersendiri. Mereka tidak berkeberatan untuk merogoh kocek lebih dalam hanya untuk secangkir kopi. Kesan bergengsi dan berkelas menjadi prioritas mereka. Harga secangkir kopi di cafe rata-rata berkisar antara Rp 30.000,- hingga Rp 50.000,- tergantung jenis minuman kopinya. Jika dalam sebulan mereka nongkrong di cafe sambil minum secangkir kopi sebanyak 4 kali setiap malam minggu, maka mereka harus mengeluarkan uang antara Rp 120.000,- hingga Rp 200.000,- setiap bulannya. Itu asumsi jika dalam satu bulan hanya nongkrong  di cafe 4 kali. Apabila lebih, misalnya hampir setiap hari pastinya uang yang harus dikeluarkan lebih banyak lagi.

Apakah nongkrong di cafe hanya untuk minum kopi saja? Bisa ya, bisa juga tidak. Ada sebagian yang memesan menu makanan ringan lain sebagai teman minum kopi seperti cake, cookies, dan lainnya. Tambahan menu tersebut jelas akan membebani dan menyita anggaran keuangan yang lebih banyak.

Kebiasaan ini termasuk pemborosankah? Tentu saja. Untuk menikmati secangkir kopi tak harus di cafe dengan harga yang fantastis. Sesekali tentu tak menjadi masalah. Namun, apabila sudah menjadi rutinitas dan kebiasaan bisa membahayakan kesehatan finansial.

  • Mengonsumsi junk food

Junk food sering kali diartikan sebagai makanan sampah, yang dipahami sebagai makanan rendah nutrisi. Mereka yang senang mengonsumsi junk food bisa jadi hanya akan merasakan kenyang saja, tetapi secara kualitas gizi sangatlah minim karena kebutuhan nutrisi tubuh tidak terpenuhi. Parahnya, harga junk food tak jauh berbeda bahkan sebagian ada yang lebih mahal dibandingkan dengan makanan yang lengkap nutrisi.

Mie instan, gorengan, asinan, kue, permen, roti, cake, dan olahan daging yang diawetkan merupakan contoh dari junk food. Ragam makanan yang sangat familiar dan sering kali menggoda untuk disantap. Namun di balik nikmatnya mengonsumsi junk food, selain tersembunyi risiko penyakit juga kebiasaan yang tanpa disadari termasuk pemborosan.

Aneka gorengan begitu akrab dengan masyarakat Indonesia. Dapat dipastikan semua orang mengonsumsi gorengan hampir setiap hari. Bahkan dalam sehari bisa mengonsumsi beberapa kali. Harga gorengan memang tergolong cukup murah, bahkan sangat terjangkau.

Namun, apabila setiap hari melakukan pembelian jenis makanan ini, tanpa disadari isi kantong tergerus hanya untuk membeli makanan yang tergolong malnutrisi. Belum untuk membeli jenis junk food lainnya seperti roti, mie instan, dan lainnya.

  • Membeli barang-barang mewah

Membeli barang-barang mewah dan branded untuk koleksi dan hanya digunakan sesekali jelas merupakan kebiasaan boros. Akan lebih bijak jika uang yang dimiliki dialokasikan ke hal-hal yang lebih bermanfaat, misalnya investasi atau bahkan disumbangkan ke lembaga-lembaga sosial yang membutuhkan.

Diakui atau tidak banyak orang yang rela mengeluarkan uang puluhan bahkan ratusan juta untuk membeli sebuah tas bermerek dari fashion designer terkenal. Uniknya barang tersebut tidak digunakan untuk menunjang aktivitas sehari-hari, tetapi hanya pada momen tertentu saja.

Membeli barang-barang mewah yang mahal hanya akan memuaskan rasa gengsi, karena secara fungsional tas mahal dengan yang murah sama saja. Jika bicara kualitas, tas mahal memang cenderung memiliki kualitas bahan baku dan juga desain yang lebih bagus. Demikian pula untuk jenis barang mewah lainnya seperti sepatu, pakaian, bahkan mobil.

  • Sering jajan

Jika diperhatikan bisnis kuliner mengalami perkembangan yang cukup pesat. Banyak usaha-usaha kuliner bermunculan yang menawarkan ragam menu yang unik lain daripada yang lain dengan harga bersaing. Di satu sisi perkembangan bisnis kuliner ini positif karena perekonomian menggeliat. Namun di sisi lain, banyaknya warung makan mencerminkan semakin banyaknya permintaan. Artinya, masyarakat lebih suka jajan dibanding memasak makanan sendiri di rumah.

Idealnya setiap orang butuh makan tiga kali sehari, sarapan, makan siang, dan makan malam. Jika kebutuhan tersebut dipenuhi dengan jajan di luar, berapa uang yang harus dikeluarkan baik untuk diri sendiri maupun keluarga? Tentu akan menyita cukup banyak bagian dalam anggaran keuangan.

Diasumsikan sekali makan harus mengeluarkan uang Rp 15.000,-. Dalam sebulan, seseorang harus menganggarkan dana sebesar Rp 1.380.000,- hanya untuk memenuhi kebutuhan makan saja untuk satu orang. Jika telah berkeluarga dengan tanggungan dua anak, tentu uang yang dikeluarkan untuk makan lebih banyak lagi.

Kebiasaan sering jajan di luar termasuk pemborosan, karena sebenarnya ada uang yang bisa lebih dihemat jika memasak makanan sendiri di rumah. Meski bekerja, Anda bisa menyiapkan makan siang sehingga tak perlu jajan di luar. Sesekali makan di luar bersama keluarga tak menjadi masalah. Namun, jika menggantungkan pemenuhan kebutuhan makan sehari-hari dari jajan makanan di luar, maka pelan namun pasti akan menjadi masalah dalam pengaturan dan pengalokasian keuangan Anda.

Kalimat bijak yang menyatakan, “hidup sederhana lebih bersahaja” agaknya cocok diterapkan untuk menghindari pemborosan. Kebiasaan hidup boros tidaklah elok meski Anda memiliki penghasilan puluhan bahkan hingga ratusan juta sekalipun. Akan lebih bermanfaat apabila uang yang dimiliki diinvestasikan pada sektor bisnis yang menguntungkan, sehingga tidak terbuang percuma hanya untuk mendapatkan kepuasan dan gengsi semata.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang kebiasaan yang tanpa disadari termasuk pemborosan, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Tip Keuangan untuk Kamu yang Baru Lulus dari SMA
Ini Pentingnya Personal Finance! Pentingnya Mengelola Keuangan Pribadi
Tip Hidup Hemat, Murah, dan Sederhana
Tip Mengelola Keuangan untuk Mahasiswa
Bagaimana untuk Menjadi Kaya?
Cara Menabung yang Benar dan Mudah untuk Masa Depan
Berikut Tips Menghemat Listrik
Apa Itu Deposito?
Tips Mandiri untuk Kamu yang Masih Nebeng Orang Tua
Apa Itu Hedonisme dan Mengapa Tak Baik untuk Keuangan Keluarga


Bagikan Ke Teman Anda