Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

KPR BTN Mikro untuk Pekerja yang Penghasilannya Rendah

Memiliki rumah sendiri merupakan mimpi sebagian besar masyarakat. Khususnya bagi mereka yang sudah berkeluarga. Namun, bagi sebagian lagi, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah, rasanya masih sulit untuk bisa punya rumah. Jangankan memiliki, bermimpi punya rumah sendiri pun rasanya sudah sulit.

Masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang didominan para pekerja informal memang kerap terbentur dengan kebijakan perbankan yang kurang berpihak kepada mereka. Para tukang bakso, pedagang di pasar tradisional, nelayan, hingga petani masih takut bermimpi punya rumah akibat sulitnya mendapat akses kredit pemilikan rumah (KPR).

Itu adalah cerita masa lalu. Cerita masa kini jelas berbeda. Sejak 24 Februari 2017, Bank Tabungan Negara (BTN) meluncurkan satu program kepemilikan rumah yang tidak biasa. Program ini diberi nama KPR BTN Mikro. Program yang hanya diperuntukan bagi mereka yang berpenghasilan rendah dan bekerja di sektor informal.

Masyarakat yang disasar oleh KPR BTN Mikro memang yang berpenghasilan antara Rp 1,8 juta hingga Rp 2,8 juta per bulan. Masyarakat yang berpenghasilan sebesar itu bukan termasuk golongan penerima KPR Subsidi. Baik dalam bentuk Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), Subsidi Selisih Bunga (SSB), dan Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM). Ketiga program tersebut dikucurkan Pemerintah untuk mewujudkan program 1 juta rumah.
Pihak BTN sejauh ini menegaskan bahwa program KPR Mikro ini merupakan murni insiatif mereka. Sebagai penegasan dari program ini, pihak BTN pun memberikan bunga kredit yang cukup rendah yaitu 6-7 % per tahun. Sementara plafon maksimal yang bisa diambil masyarakat adalah 75 juta rupiah.

Dengan asumsi tenor 120 bulan dan menghitung plafon tertinggi 75 juta rupiah dengan bunga 6-7 % per tahun, maka cicilan yang harus dibayar berkisar Rp 900.000 sampai Rp 956.000 per bulan. Angka yang rasanya masih bisa ditanggung oleh para pekerja informal.

Meski demikian, angka cicilan tersebut masih akan sangat berat bagi mereka yang berpenghasilan rata-rata di bawah Rp 1,5 juta rupiah per bulan. Apalagi, para pekerja informal ini tidak memiliki penghasilan yang tetap setiap bulannya. Hal itu bisa diantisipasi oleh BTN dengan menyesuaikan plafon yang bisa diambil masyarakat. Sehingga cicilannya tidak terlalu memberatkan.
Bahkan untuk lebih memudahkan pembayaran cicilan, BTN tidak mematok tahap hanya per bulan saja. Cicilan juga bisa dibayar secara harian ataupun mingguan. Debitur tinggal memilih pola yang mana yang sesuai dengan kemampuan mereka dalam membayar cicilan.

Tak hanya itu, BTN pun mematok jumlah DP yang sangat rendah. Hanya 1% saja, tapi khusus bagi mereka yang melakukan pembelian rumah pertama. Bagi masyarakat yang ingin merenovasi rumah, BTN mewajibkan DP yang harus dibayar adalah 10%.

Selain untuk pembelian rumah dan renovasi, program KPR BTN Mikro ini juga bisa digunakan untuk membangun rumah di atas tanah milik mereka. Skema ini akan membantu masyarakat yang sudah memilih lahan tapi terkendala tanah adat. BTN pun membantu proses sertifikasi tanah sebelum nantinya dibangun oleh debitur.

Bantuan sertifikasi ini memang harus dilakukan BTN. Karena setiap calon debitur KPR Mikro harus memberikan jaminan berupa rumah atau tanah yang dibiayai. Jaminan tersebut harus diikat dengan Sertifikat Hak Tanggungan (SHT) dan Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (SKMHT).

Selain masyarakat berpenghasilan rendah dan bekerja di sektor informal, BTN juga mematok syarat lain bagi mereka yang ingin mendapatkan fasilitan KPR BTN Mikro ini. Pertama, calon debitur harus membuka tabungan dan aktif setidaknya selama tiga bulan. Jumlah rata-rata nominal di dalam tabungan disesuaikan dengan jumlah cicilan per bulan.

Untuk itu, para pekerja informal yang akan mengajukan KPR BTN Mikro bisa menabung dalam salah satu jenis tabungan yang disediakan BTN yaitu Tabungan Cermat. Tabungan yang sudah berjalan sejak 2015 ini hanya butuh setoran awal Rp 10.000 dan tidak ada biaya administrasi.

Syarat berikutnya adalah para calon debitur harus tergabung dalam komunitas atau paguyuban. Bisa juga masuk menjadi anggota koperasi. Nantinya, pihak paguyuban akan memberi rekomendasi kepada BTN bahwa anggotanya memang sudah bisa diberikan kepercayaan melalui KPR BTN Mikro.

Terakhir, para calon debitur harus sudah menjalankan usahanya minimal selama 1 tahun. Ukuran waktu 1 tahun sudah cukup untuk menilai bahwa usaha mereka mampu berjalan dengan baik atau tidak. Hal inilah yang nantinya akan membuat BTN menyetujui atau menolak permohonan KPR BTN Mikro.

Sebagai tahap awal, BTN pun menyasar para tukang bakso yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso (Apmiso). Untuk kemudian, mereka yang berada di sektor informal lain seperti nelayan, pedagang sayuran, atau pengrajin akan diberi kesempatan yang sama dalam mewujudkan impian mereka bisa memiliki rumah sendiri.

Melalui program KPR BTN Mikro, secara tidak langsung masyarakat pekerja di sektor informal akan dipaksa untuk selalu menyisihkan sebagian dari penghasilannya. Terutama untuk membeli aset yang berguna di masa depan seperti rumah atau properti lainnya. Dan yang paling penting, mereka kini sudah bisa bermimpi untuk memiliki rumah dan kemudian mewujudkannya.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang KPR Mikro untuk pekerja yang penghasilannya rendah, semoga bermanfaat.



KPR di Bank BRI
KPR vs Kredit Langsung ke Developer? Apa Untung Ruginya?
Pahami Ragam Take Over KPR Ini Sebelum Melakukannya
Bank Menyita Rumah KPR, Apa yang Harus Dilakukan?
Adakah KPR untuk PNS? Apa syaratnya?
Proses KPR untuk Rumah Bekas / Rumah Second
Apa itu KPR Refinancing? Kenapa Harus Refinancing?
Apa Beda KPR vs KPA?
KPR FLPP DP 1% untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah
Balik Nama Sertifikat Rumah Masih KPR?


Bagikan Ke Teman Anda