Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

KPR Konvensional Vs KPR Syariah, Apa Perbedaannya?

Memiliki rumah sendiri merupakan impian hampir semua keluarga, dimana keluarga memiliki tempat pulang dan berlindung yang nyaman serta aman. Namun sayangnya seperti harga tanah dan properti lainnya, harga rumah pun terus meningkat tiap tahunnya dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mengumpulkan uang guna memiliki rumah. Kalau sudah begitu, mengambil pinjaman KPR yang ditawarkan oleh bank dapat menjadi solusi yang tepat.

Dengan mengambil pinjaman KPR, Anda dapat memiliki rumah sendiri tanpa harus menunggu bertahun-tahun dan dapat membayarnya melalui sistem cicilan kepada pihak bank. Seiring berjalannya waktu, kini bukan hanya bank konvensional yang mengeluarkan produk KPR namun juga bank syariah. Tentunya produk KPR dari bank konvensional dan bank syariah memiliki perbedaannya masing-masing karena jenis banknya pun berbeda.

Untuk lebih memahami perbedaan tersebut, berikut adalah beberapa jenis perbedaan antara KPR konvensional dan KPR Syariah:

1. Akad Perjanjian

Perbedaan pertama adalah dari segi akad atau kontrak perjanjian antara pihak bank, pihak penjual atau developer, dan pihak peminjam yang disahkan secara legal oleh notaris. Pada KPR konvensional, akad yang berlaku hanyalah akad jual beli dimana adanya pertukaran satu harta yang dimiliki dengan harta lain. Dalam hal ini tentunya pertukaran rumah yang dijual dengan uang yang dibayarkan melalui pinjaman yang diberikan melalui produk KPR dari bank.

Sedangkan pada KPR syariah terdapat beberapa akad perjanjian yaitu Musyarakah Mutanaqishah (akad kepemilikan bertahap), Ijarah (akad sewa), dan Ijarah Muntahua Bittamlik (akad sewa beli). Mungkin jika dilihat secara garis besar, akad perjanjian ini seperti akad jual beli atau sewa-menyewa pada umumnya. Namun dengan adanya tiga akad tersebut, terdapat unsur kerelaan pada masing-masing pihak dalam melakukan transaksi karena lebih dirincikan dan bertahap dengan jelas.

2. Nilai Angsuran

Nilai angsuran merupakan jumlah uang yang harus dibayarkan untuk cicilan KPR tiap bulan atau tahunnya, dimana nilai ini tergantung pada harga rumah yang dibeli, masa tenor, dan bunga pinjaman. Untuk KPR konvensional, terdapat kemungkinan nilai angsuran yang berubah naik tiap tahunnya karena mengikuti suku bunga yang berlaku di Bank Indonesia. Walaupun kembali lagi kepada jenis bunga yang disetujui pada perjanjian, apakah menggunakan bunga tetap (flat) atau bergantung suku bunga yang berlaku (fluktuatif).

Sedangkan pada KPR syariah, nilai angsuran bulanan atau tahunannya sudah tetap karena telah disepakati dan ditentukan nilainya sedari awal. Nilai angsuran pada KPR syariah sudah ditentukan dari awal hingga akhir masa tenor di awal perjanjian dilakukan. Dengan begitu, Anda tidak perlu khawatir nilai angsuran yang akan naik karena ada hal-hal tertentu yang berubah.

3. Bunga Pinjaman

Pada KPR konvensional, bunga pinjaman yang berlaku bisa dikenakan secara tetap (flat) atau berubah-ubah (fluktuatif) namun sebagian besar menggunakan bunga fluktuatif. Biasanya bank menawarkan bunga yang rendah di awal masa pembayaran KPR, sekitar 3 hingga 5 tahun, untuk menarik nasabah mengambil pinjaman. Karenanya jangan kaget jika di tahun-tahun berikutnya bunga pinjaman akan naik karena terpengaruh juga oleh suku bunga dari Bank Indonesia.

Sedangkan pada KPR syariah tidak berlaku bunga pinjaman, melainkan diterapkan margin keuntungan yang telah disepakati di awal akad perjanjian. Karena pada dasarnya bank syariah memang tidak menggunakan sistem bunga dalam operasionalnya, maka hal itu berlaku juga dalam produk KPR yang dikeluarkannya. Nilai margin keuntungan pun sudah dikalkulasian dan ditentukan dengan tetap sejak awal, hingga tidak akan terjadi kenaikan biaya yang harus dibayarkan pada pembayaran selama masa tenor berlangsung.

4. Masa Tenor Pinjaman

Perbedaan selanjutnya ada pada masa pembayaran dan pelunasan pinjaman atau tenor KPR yang diberikan pada nasabah atau peminjam. Dalam hal ini, masa tenor pada KPR konvensional lebih panjang dibanding pada KPR syariah. KPR konvensional memberikan masa tenor hingga mencapai 20 tahun, sedangkan KPR syariah hanya memberikan masa tenor paling lama 15 tahun. Hal ini karena terpengaruh ada atau tidaknya bunga pinjaman ada KPR yang diberikan.

Dalam KPR konvensional sudah kita ketahui adanya bunga pinjaman, sehingga meskipun masa pelunasan lebih lama namun pihak bank tetap mendapatkan keuntungan dari bunga yang dibayarkan. Sedangkan KPR syariah tidak menetapkan sistem bunga sehingga tidak akan mendapatkan keuntungan seperti itu, maka masa tenor pun lebih pendek. Mungkin hanya terlihat jangka perbedaan yang kecil hanya sekitar 5 tahun, namun jika jangka itu dikalikan dengan angsuran yang harus dibayar tentunya akan menghasilkan jumlah perbedaan yang cukup besar.

5. Pinalti dan Denda Keterlambatan

Anda mungkin sudah tidak asing lagi dengan sistem pembayaran pinjaman bank yang justru mengenakan pinalti jika peminjam hendak melunasi hutang sebelum masa tenor berakhir. Hal itu berlaku juga pada KPR konvensional, dimana Anda akan dikenakan pinalti jika membayar lunas lebih awal karena pihak bank tidak akan mendapatkan keuntungan dari bunga yang dibayarkan. Sedangkan pada KPR syariah, Anda tidak akan dikenakan biaya pinalti meskipun membayar dengan lebih cepat karena jumlahnya sudah ditentukan dengan tetap dari awal sehingga tidak ada bedanya membayar sekarang atau nanti.

Namun hal ini berlaku kebalikannya pada denda keterlambatan membayar cicilan KPR, dimana KPR konvensional menetapkan besaran denda yang lebih kecil dibanding KPR syariah. KPR konvensional biasanya memberikan aturan mengenai denda sebesar 1% dari cicilan bulanan yang harus dibayarkan, meski bisa saja berbeda tergantung kesepakatan awal dan kebijakan bank. Sedangkan KPR syariah menetapkan denda keterlambatan hingga 5% dari cicilan bulanan yang harus dibayarkan, meski tentu saja besaran ini bisa berbeda pada setiap bank.

Demikianlah pembahasan mengenai apa saja perbedaan produk KPR yang dikeluarkan oleh bank konvensional dan bank syariah. Sejatinya, kedua produk tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan pilihan Anda. Semoga informasi dalam pembahasan ini berguna dan bermanfaat!

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang KPR Konvensional dan KPR Syariah, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Seputar KPR BNI
Apa Sih Take Over KPR Itu?
Apa itu Loan to Value (LTV) KPR?
Seputar KPR CIMB Niaga
Ditolak KPR, DP Hangus?
Syarat Umum Pengajuan KPR
Bank Menyita Rumah KPR, Apa yang Harus Dilakukan?
Apa Untung Rugi KPR Tenor Panjang?
Ingin Mengajukan KPR Rumah Bersubsidi? Ini Syarat yang Diperlukan
Apa Itu KPR Syariah?


Bagikan Ke Teman Anda