Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Mengapa Banyak Mall Tutup? Ini Dia Biang Keladinya!

Belakangan ini marak ditemui hal yang cukup mengkhawatirkan secara perekonomian. Di sejumlah kota, baik besar maupun kecil, banyak mall yang tutup. Sementara itu, ruko kebanyakan beralih fungsi menjadi tempat tinggal belaka. Apa yang terjadi sehingga fenomena ini muncul? Apa yang melatarbelakangi? Dan, apa yang menggantikan fungsi mall tersebut jika ternyata perekonomian tak selesu yang diperkirakan?

Tak bisa dipungkiri bahwa mall merupakan tempat dimana masyarakat melakukan transaksi keuangan secara langsung. Berkurangnya jumlah mall yang aktif dapat mencerminkan banyak hal. Apapun itu, yang pasti mall yang ‘mati’ menciptakan petaka baru di bidang perekonomian. Hal yang paling sederhana adalah banyaknya tenaga kerja yang harus dipecat, jasa logistik yang tak berkembang, hingga produksi barang yang menurun drastis sehingga membuat perekonomian makin lesu dan tumbang.

Apa yang membuat hal semacam ini terjadi? Berikut adalah alasannya:

1. Maraknya pembelian secara online

Ini merupakan ‘kabar baik’ di samping kabar buruk gara-gara mall yang tutup dan tumbang di sana-sini. Keberadaan jual beli online secara langsung membuat orang enggan untuk pergi ke luar rumah atau meluangkan waktu barang sejenak untuk berkumpul dengan keluarga di ruang public. Ketika segala sesuatu bisa dibeli cukup dengan menjentikkan jari, maka itu pertanda perekonomian masih bagus – jika tidak dapat dikatakan sekarat.

Mengapa sekarat? Karena aktifitas jual beli online secara otomatis membuat toko atau mall mengurangi jumlah karyawannya; dan berakibat pada meningkatnya angka pengangguran usia produktif. Walau pembelian online di satu sisi membuka lapangan kerja – misalkan, jasa ojek online atau online delivery – jumlah tenaga kerja yang diserap tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan tenaga kerja yang diberhentikan.

Secara sosial, banyaknya transaksi online bisa menjadi sinyalemen bahwa masyarakat telah enggan membeli barang dengan kualitas standar atau setengah-setengah dengan harga mahal. Tak bisa dipungkiri bahwa jual beli online mengisyaratkan harga yang lebih murah. Dalam benak konsumen, itu artinya harga yang lebih ‘jujur’. Jadi, bisa jadi runtuhnya mall disebabkan pula oleh kecurangan atau terlalu banyaknya keuntungan yang ingin diraup penjual.

2. Jumlah mall terlampau banyak

Ini juga merupakan salah satu penyebab yang tak bisa ditolak keberadaannya. Idealnya, setiap mall terpisah jarak tertentu satu sama lain. Jika tidak, maka akan ada salah satu yang terpaksa (dan harus) gulung tikar karena tak bisa berkompetisi. Barang dan jasa yang ditawarkan masing-masing mall pada dasarnya tidak berbeda jauh.

Beberapa bahkan menjual produk yang sama dengan selisih yang tidak signifikan, sementara keterpautan jarak antar keduanya dapat ditempuh cukup dengan berjalan kaki secara santai. Guna mengatasi hal ini, perlu adanya pengawasan dinas terkait, terutama dinas tata kota dan tata ruang, agar mengatur secara baik ijin pendirian mall di setiap kota atau daerah.

3. Daya beli menurun

Penurunan daya beli masyarakat dapat pula menjadi penyebab sepi – dan kemudian bangkrutnya – mall di kota-kota besar maupun kecil. Tak butuh waktu lama untuk mengetahui turunnya daya beli dan tingkat konsumsi masyarakat. Berbeda dengan pasar tradisional, pemerintah tidak bisa melakukan intervensi terhadap produk atau barang dan jasa yang ditawarkan di mall. Kalaupun bisa, itu hanya dari sisi penerimaan pajak.

Tak mengherankan jika ketika mall sepi, pasar tradisional masih terlihat ramai. Selain disebabkan oleh karena orang cenderung pergi ke tempat dimana uang mereka masih bisa dipergunakan sebagai alat jual beli, fakta bahwa pemerintah tidak bisa melakukan operasi pasar di mall merupakan salah satu penyebab utama mangkraknya mall-mall di kota besar.

4. Harga sewa terlampau tinggi

Yang satu ini lebih banyak disebabkan oleh kerakusan pihak pengelola mall dalam meraup keuntungan. Seharusnya ada pemahaman bersama bahwa mereka yang membuka tenan di mall merupakan pahlawan ekonomi, karena mereka berjasa dalam membuat perekonomian tetap berjalan. Akan tetapi, sejumlah orang berniat memanfaatkan kondisi, berpendapat bahwa mereka yang menyewa pasti memiliki uang.

Padahal, para penyewa adalah orang yang juga membutuhkan uang – dan memenuhinya dengan berjualan. Tak jarang penyewa dibebani dua hal berat sekaligus, yakni biaya sewa bulanan atau tahunan dan juga service charge yang dikenakan per bulan berbasis berapa meter persegi ruang yang mereka ambil di mall.

5. Perubahan tata kota

Ini merupakan penyebab eksternal mangkrak dan matinya mall di sejumlah kota. Ada kalanya pemerintah setempat sesuka hati mengubah rencana tata kota ruang yang tadinya diakses orang berubah menjadi zona mati. Jika kebetulan di wilayah tersebut ada mall, maka kemungkinan besar mall tersebut mati suri kemudian berubah menjadi bangkai beton. Permasalahan ini kerapkali tak menciptakan persoalan lebih jauh, karena itu artinya angka pengangguran relatif konstan. Pegawai hanya berpindah ke mall yang baru dibuka atau tempat lain yang berubah fungsi menjadi tempat jualan hanya karena mendapatkan akses lalu lintas.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang biang keladinya mall yang tutup, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Tutupnya Mal di Berbagai Negara
Agar Bisa Menabung, Hindari Beli Barang Berikut
Membuat Anggaran ketika Sedang Bangkrut
Kesalahan Mengatur Keuangan yang Umum Terjadi
Tipe Orang yang Akan Gagal Mengelola Uang
Skill Keuangan yang Harus Diajarkan Ke Anak
Contoh Keputusan Finansial yang Buruk
Mengapa Orang Yahudi Sukses?
Jangan Beli Mainan Anak-anak Seperti Ini
Kesalahan dalam Membeli Mobil


Bagikan Ke Teman Anda