Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Mengapa Ide Murah Sedangkan Eksekusinya Mahal?

Setiap orang dikaruniai otak untuk berpikir. Namun, tak semua orang memiliki tingkat kreativitas yang sama dalam melahirkan ide-ide cemerlang. Naik satu tingkat lagi, tak semua orang mampu untuk merealisasikan atau mengeksekusi ide-ide yang berkembang dalam pikirannya.

Meski munculnya tak selalu mudah, namun ide tak bisa dijual dan menghasilkan uang. Ironinya ide tak luput dari praktik plagiasi alias dijiplak atau ditiru orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa ide sebagai rancangan yang tersusun dalam pikiran tidak memiliki nilai secara ekonomi. Jika pun ada, harganya begitu murah.

Lain halnya jika ide telah dieksekusi dan direalisasikan sehingga memiliki wujud nyata, itulah yang bernilai ekonomi dan berpotensi menghasilkan uang. Ide yang sudah menjadi suatu produk atau jasa akan memiliki manfaat bagi orang lain. Nah, adanya manfaat nyata inilah yang menjadikannya bernilai. Sayang tak semua orang bisa mengeksekusi ide briliannya karena terbentur mahalnya biaya yang diperlukan. Perlahan tapi pasti, ide brilian itu akan memudar dan hilang begitu saja tanpa eksekusi nyata. Mengapa ide murah, sedang eksekusinya mahal?

  • Ide tidak memiliki pasar

Dalam kehidupan masyarakat dunia dikenal adanya pasar barang dan pasar uang, tetapi tidak ada pasar ide. Anda pasti pernah mendengar istilah bertukar ide. Ide hanya bisa dipertukarkan, tetapi tidak bisa diperjualbelikan. Brainstorming menjadi salah satu contoh dari proses pertukaran ide, di mana beberapa orang tergabung dalam kelompok kecil untuk saling mengungkapkan ide masing-masing, sehingga pada akhirnya dapat diambil suatu ide terbaik.

Ide hanya akan berfungsi sebatas khayalan apabila tidak direalisasikan. Buktinya, ketika ide muncul tanpa tindak eksekusi, maka ide tersebut akan pudar dan hilang tanpa menghasilkan suatu nilai apapun, meski ide tersebut hebat sekalipun. Walau demikian, tak menutup kemungkinan bahwa ide juga bisa dijual, tetapi peluangnya begitu kecil. Tak banyak orang yang bersedia membeli ide. Lagi-lagi, mereka cenderung lebih memilih untuk meniru dibandingkan harus mengeluarkan uang guna membeli sebuah ide.

Jika pun bisa dijual, ide harus dilengkapi dengan skema dan detail penjabaran tentang cara kerjanya sehingga mudah untuk dieksekusi. Tak hanya itu, agar bisa menjual ide, Anda juga dituntut untuk mampu meyakinkan pada para investor atau calon pembeli ide bahwa ide tersebut memiliki prospek yang baik dan berpeluang menghasilkan uang. Apabila dirasa ide itu memang memiliki nilai ekonomi setelah dieksekusi dan juga memiliki peluang pangsa pasar, bisa jadi investor tertarik untuk membelinya. Meski dimungkinkan untuk dijual, namun umumnya ide dihargai murah, tak sebanding dengan harga dari wujud nyatanya saat sudah menjadi suatu produk atau layanan jasa.

  • Ide tidak memiliki manfaat nyata

Ide tanpa eksekusi tak akan memberikan pengaruh apapun baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Ibarat kata ide tanpa eksekusi hanya sebatas pepesan kosong. Bagaimana bisa sesuatu yang tidak riil memiliki nilai tinggi? Lain ceritanya jika ide tersebut telah diwujudkan menjadi suatu produk atau jasa yang dapat dirasakan manfaatnya secara nyata. Produk atau jasa sebagai hasil dari eksekusi ide inilah yang bernilai jual dan berpotensi menghasilkan uang.

Contoh konkretnya Anda memiliki ide cemerlang membuat usaha kuliner. Selama ide tersebut masih terpendam dalam benak Anda tentu hanya akan menjadi sebatas angan-angan saja. Hal itu jelas tak akan memberikan manfaat atau hasil apapun baik bagi diri Anda maupun orang lain. Namun, ketika Anda mengeksekusi ide tersebut dan terealisasi usaha kuliner yang menyediakan beragam produk makanan, saat itulah Anda berpeluang untuk memperoleh hasilnya. Produk makanan sebagai wujud nyata dari ide usaha kuliner tersebut jelas memiliki manfaat secara nyata bagi orang yang membelinya. Nah, adanya manfaat inilah yang membuat eksekusi ide lebih mahal dibandingkan dengan ide itu sendiri.

  • Ide tidak membutuhkan sumber daya

Apakah hanya dengan berdiam diri sebuah ide cemerlang yang muncul dalam pikiran dapat terwujud dengan sendirinya? Tentu saja tidak. Harus ada upaya dan sumber daya untuk merealisasikannya. Munculnya ide tidak membutuhkan sumber daya, sedang untuk realisasinya dibutuhkan sumber daya finansial. Itulah sebabnya ide murah, sedang eksekusinya mahal.

Untuk merealisasikan sebuah ide pembuatan situs jejaring sosial Facebook, Mark Zuckerberg sebagai pendirinya harus mencari sumber daya finansial yang jumlahnya tak bisa dibilang sedikit. Mark setidaknya membutuhkan modal awal kurang lebih sekitar US$ 500.000. Seiring dengan pengembangannya, dana yang dibutuhkan juga semakin besar. Namun, upaya dan sumber daya finansial juga kompetensi yang dicurahkan pada Facebook berbuah manis. Situs jejaring sosial tersebut kini mampu menghasilkan banyak uang hingga menjadikan sang pendiri sebagai milyarder muda.

Dari contoh tersebut jelas bahwa eksekusi ide lebih mahal karena tidak hanya sebatas angan-angan saja, tetapi ada penyaluran sumber daya baik finansial, peralatan, kompetensi atau keahlian, waktu, dan juga tenaga secara optimal. Setelah terwujud suatu produk atau layanan jasa, barulah ide tersebut nyata dan memiliki nilai jual sehingga berpotensi menghasilkan uang.

Ide dapat muncul di mana saja dan kapan saja, tak direncana dan tiba-tiba. Namun, ide hanya sebatas angan-angan dan rancangan yang memenuhi pikiran jika tidak direalisasikan. Tanpa eksekusi, ide tidak memiliki arti. Itulah sebabnya, ide dianggap tak memiliki nilai ekonomi sampai dia menjadi produk atau layanan jasa sebagai wujud eksekusi yang mempunyai manfaat secara nyata.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang mengapa ide murah sedangkan eksekusinya mahal, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Mengapa Perempuan Mudah Terjebak Utang Kartu Kredit?
Financial Planning Before Disaster (Persiapan Finansial Sebelum Bencana)
Bagaimana Menggunakan ATM dengan Aman?
Sisi Buruk Kerja di Perusahaan Startup
Bagaimana Bersenang-Senang Sekeluarga dengan Murah?
Mengapa Financial Management (Manajemen Keuangan) Harus Diajarkan di Sekolah
Empat Tahap Pertumbuhan Bisnis
Apa yang Harus Dilakukan Bila Dompet Hilang?
Bagaimana Restoran Buffet (All You Can Eat) Mendapatkan Untung?
Apa Itu ‘Bank Stress Test’?


Bagikan Ke Teman Anda