Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Mengapa Sisa Makanan di Retoran Dibuang? Mengapa Tidak Disumbangkan?

#buang #restoran #sisa makanan

Pernah makan di restoran? Anda dapat menemukan aneka ragam menu makanan penggugah selera yang ditawarkan. Tentu tak hanya menu makanan saja, tetapi juga minuman. Untuk menikmatinya, Anda hanya perlu memilih menu makanan dan minuman yang diinginkan. Dalam hitungan menit, menu makanan dan minuman yang dipilih telah tersaji dan siap untuk dinikmati.

Banyaknya menu makanan yang ditawarkan di restoran, tentu membutuhkan ketersediaan stok bahan makanan yang banyak pula. Tak heran jika di restoran selalu dilengkapi dengan lemari bahkan ruangan khusus untuk menyimpan bahan makanan agar tetap awet atau tidak mudah busuk.

Meski demikian, untuk jangka waktu tertentu, pihak restoran akan menyortir bahan makanan dan membuangkan. Hal ini juga berlaku untuk sisa makanan yang tak habis dijual.

Mengapa restoran harus membuang makanan? Tentu sayang jika makanan dibuang percuma. Mengapa tidak diberikan kepada karyawan untuk dibawa pulang sehingga bisa dinikmati keluarganya?

Mengapa pula tidak diberikan kepada para pengemis dan gelandangan yang tentu lebih membutuhkan, karena sering didera rasa lapar? Ternyata inilah sebab restoran harus membuang makanan yang tidak terjual.

  • Alasan kesehatan

Setiap jenis bahan makanan memiliki masa ketahanan yang berbeda-beda. Meski disimpan dalam lemari pendingin, bukan berarti makanan bisa awet selamanya. Penyimpanan yang baik dan benar memang dapat membantu memperpanjang ketahanannya.

Namun tetap saja ada batas kadaluarsanya. Artinya bahan makanan yang disimpan dalam waktu lama akan mengalami penurunan kualitas dan kadar atau kandungan gizinya. Bahkan ada beberapa jenis bahan makanan yang memiliki kandungan gizi tinggi justru berubah menjadi toksin atau racun apabila disimpan terlalu lama, seperti kentang, kacang merah, buah leci, dan belimbing.

Tak hanya kualitasnya yang menurun dan kandungan gizinya yang berkurang, bahan makanan yang tersimpan lama juga berpotensi terpapar bakteri. Sebagaimana diketahui bahwa tak sedikit jenis bakteri berbahaya yang beterbangan di udara sehingga mudah sekali menempel pada bahan makanan meski disimpan dalam wadah khusus. Bakteri-bakteri inilah yang menyebabkan penurunan kualitas bahan makanan dan berperan dalam proses pembusukan.

Jika bahan makanan yang telah menurun kualitasnya dan berkurang kandungan gizinya diolah menjadi makanan siap saji dan dikonsumsi, bisa jadi justru berbahaya karena berisiko menimbulkan penyakit, bahkan terjadi keracunan.

Tak hanya bahan makanan saja, tetapi juga sisa makanan yang tidak dihidangkan atau tidak terjual juga harus dibuang. Makanan yang telah diolah dari pagi hari dan masih tersisa hingga malam hari tentu sudah tidak baik kualitasnya. Oleh sebab itu memang harus dibuang, karena jika dikonsumsi akan menimbulkan gangguan kesehatan bagi tubuh.

Alasan inilah yang mendorong pihak restoran lebih memilih membuang makanan dibanding memberikannya pada karyawan atau pengemis dan gelandangan.

  • Menjaga kredibilitas karyawan

Setiap bahan makanan maupun sisa makanan yang belum terhidang merupakan milik restoran. Artine tidak ada yang berhak mengambil apalagi membawanya pulang tanpa membeli termasuk bagi karyawan restoran itu sendiri. Semua perusahaan pasti ingin memiliki dan mempekerjakan karyawan yang jujur, loyal, dan kredibel. Siapa yang mau ‘memelihara pencuri’ dalam rumah?

Berapapun banyaknya bahan makanan atau sisa makanan yang tidak terjual, restoran tidak akan mengambil risiko dengan membagikannya atau mengizinkan karyawannya untuk membawa pulang. Manajemen restoran tetap akan membuang sisa makanan tersebut ke tempat sampah.

Hal ini dilakukan agar karyawan tidak melakukan kecurangan dalam mengelola bahan makanan dan makanan siap saji yang akan dihidangkan kepada tamu atau pengunjung restoran.

Jika karyawan diperkenankan untuk membawa pulang bahan makanan atau sisa makanan yang tidak terjual, maka mereka bisa jadi tidak jujur dalam mengolah dan menjual menu restoran. Tujuan dan harapannya agar porsi makanan yang bisa dibawa pulang lebih banyak. Hal ini jelas meruntuhkan kredibilitas karyawan dan pastinya merugikan restoran.

  • Efisiensi biaya

Untuk kepentingan sosial, bisa saja restoran membagikan makanan kepada kaum dhuafa, pengemis dan gelandangan, tapi tentunya bukan makanan sisa yang tidak terjual.

Jika restoran hingga akhir jam menjelang tutup masih memiliki makanan sisa, maka mereka akan memilih untuk membuangnya. Hal ini bertujuan untuk efisiensi biaya. Apabila pihak restoran membagikan makanan yang tersisa kepada para pengemis dan gelandangan, maka akan ada biaya untuk kemasan atau pembungkus yang harus ditanggung.

Tak hanya biaya kemasan, restoran juga harus menanggung biaya transportasi untuk membagikan setiap bungkus kepada para pengemis dan gelandangan yang tersebar di berbagai titik.

Selain itu, pajak yang sedianya dibebankan kepada konsumen yang telah membeli menu restoran justru harus ditanggung oleh restoran apabila membagikan makanan yang tersisa kepada pengemis dan gelandangan.

Beban biaya itulah yang dihindari restoran sehingga mereka memilih untuk membuang makanan yang tersisa dibanding memberikannya kepada pihak lain yang membutuhkan. Intinya, restoran ingin melakukan efisiensi biaya.

  • Mencegah penjualan makanan kadaluarsa

Banyak kasus keracunan makanan yang terjadi dan setelah diselidiki ternyata bahan makanan yang diolah diperoleh dari sisa olahan restoran yang sudah tidak layak dikonsumsi. Selalu saja ada oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan ‘sampah’ dan mengubahnya menjadi bisnis dengan hasil yang menggiurkan.

Bekerjasama dengan ‘orang dalam’ restoran guna mendapatkan bahan-bahan makanan yang sudah menurun kualitas dan kandungan gizinya untuk diolah menjadi menu makanan baru. Apabila hal ini dibiarkan, maka bisnis penjualan makanan ‘sampah’ dan makanan kadaluarsa semakin marak. Tak hanya merugikan restoran saja, tindakan ini juga merugikan masyarakat umum.

Pencegahan penjualan makanan kadaluarsa tidak hanya berlaku pada restoran saja, tetapi juga toko-toko roti. Roti-roti yang sudah kadaluarsa atau berjamur sering kali diganti kemasan dan dijual kembali dengan harga lebih murah. Seolah tak menyadari bahayanya, banyak konsumen yang berminat membeli karena murah harganya.

Inilah sebabnya restoran memiliki aturan yang sangat ketat dalam memperlakukan bahan dan makanan sisa. Bagi mereka membuang lebih baik daripada membuka celah bisnis makanan kadaluarsa yang jelas-jelas ilegal dan merugikan banyak orang.

Bukan masalah dibuang sayang, tapi lebih mengutamakan kesehatan dan kejujuran. Bahan dan makanan sisa yang sudah tidak layak dikonsumsi memang sebaiknya dibuang daripada membahayakan kesehatan.

Meski secara materi restoran harus menanggung rugi apabila jumlah bahan dan makanan sisa cukup banyak, namun restoran memiliki standar tersendiri dalam menjaga nama baik dan kualitas menunya.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang alasan sisa makanan di retoran dibuang dan mengapa tidak disumbangkan, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Perbedaan Tax Avoidance dengan Tax Evasion
Apa itu Traveloka PayLater (Pinjaman dari Traveloka)?
Perbedaan antara Pajak dengan Bea Cukai
Kartu Kredit dengan Fasilitas Lounge di Bandara Soekarno Hatta
Pentingnya Mengenali Nasabah dalam Sektor Perbankan
Step by Step Cara Mendaftarkan Merek Dagang
Teknik untuk Mencegah Pemalsuan Uang dan Fitur yang Tidak Ada di Uang Palsu
Perbedaan Karakteristik Perusahaan Dagang dengan Perusahaan Jasa
Cara Membeli Rumah Lelang Melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN)
Perbedaan Kurs Referensi JISDOR vs Kurs Tengah BI


Bagikan Ke Teman Anda