Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Mengenal Sifat 5K: Katebelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi, dan Komisi

Dunia bisnis penuh dengan persaingan. Mereka yang memiliki kekuatan modal dan strategilah yang akan memenangkan persaingan. Sayangnya, dunia bisnis tak lepas dari praktik-praktik kotor untuk menang sehingga tercipta persaingan yang tidak sehat. Diakui atau tidak banyak pengusaha yang menggunakan trik licik untuk menjatuhkan lawan bisnis.

Untuk mendapatkan proyek bisnis bernilai besar, tak sedikit pengusaha yang mengabaikan etika bisnis dengan mempraktikkan sifat 5K yaitu Katebelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi, dan Komisi. Lima sifat ini dinilai bertentangan bahkan merusak etika dalam berbisnis, karena menimbulkan praktik-praktik kecurangan dan persaingan yang tidak adil.

Apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan katebelece, kongkalikong, koneksi, kolusi, dan komisi yang kemudian dikenal dengan sifat 5K itu? Berikut masing-masing definisi dan contohnya.

  • Katebelece

Istilah katebelece ini memang terdengar asing karena jarang digunakan dalam bahasa sehari-hari, bahkan dalam bisnis sekalipun. Namun sebenarnya katebelece bukanlah istilah baru, bahkan telah ada sejak penjajahan Belanda. Secara historis, kata katebelece berasal dari bahasa Belanda kattabelletje yang kemudian disebut katebelece dalam bahasa Indonesia.

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), katebelece memiliki dua makna. Pertama, surat pendek untuk memberitakan hal seperlunya saja. Kedua berarti surat pengantar dari pejabat untuk urusan tertentu. Sementara pengertian katebelece dari asal katanya adalah surat atau nota dari pejabat kepada bawahan yang meminta agar segala hal yang tercantum dalam surat tersebut diperhatikan atau dilaksanakan. Singkatnya dalam pengertian lebih sederhana, katebelece adalah surat sakti.

Awalnya katebelece digunakan dalam lingkup birokrasi. Namun, kini telah menyebar ke semua sektor, termasuk bisnis baik pada proyek-proyek swasta maupun pemerintah. Dalam birokrasi, katebelece sebagai memo yang memuat catatan singkat yang diberikan oleh seorang pejabat ke pajabat lain atau bawahannya untuk suatu kepentingan, yang cenderung lebih bersifat personal atau pribadi, bukan atas dasar profesionalisme.

Katebelece dalam birokrasi dapat dicontohkan dengan memo atau surat pindah tugas yang diberikan oleh seorang pejabat untuk memindahkan kerabatnya entah kakak, adik, atau bahkan anaknya sendiri ke tempat yang lebih nyaman. Selain itu, katebelece juga berlaku untuk memutasi seseorang yang tidak disukai ke tempat lain.

Sementara dalam bisnis, praktik katebelece ini dapat dicontohkan dengan pemberian memo sebagai surat sakti oleh seorang pejabat kepada pejabat lain yang berwenang dalam pengurusan proyek untuk menunjuk seseorang yang namanya tertera dalam memo tersebut sebagai pemenang proyek. Sama halnya dengan proyek bisnis terkait dengan instansi swasta. Seorang pengusaha bisa memanfaatkan relasi yang dimilikinya untuk mendapatkan surat sakti guna memenangkan tender suatu proyek bisnis.

  • Kongkalikong

Anda mungkin sudah sering mendengar istilah kongkalikong. Namun tahukah Anda makna dari istilah tersebut? Dalam KBBI, kata kongkalikong memiliki arti tidak jujur, tidak terang-terangan, sembunyi-sembunyi, sekongkol, perihal tahu sama tahu dalam melakukan hal yang tidak baik. Secara lebih rinci, kongkalikong dapat dipahami sebagai suatu perbuatan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih secara diam-diam dengan kesepakatan tertentu agar tidak diketahui oleh orang lain atau publik.

Kongkalikong cenderung memiliki konotasi negatif karena dilakukan untuk suatu perbuatan yang tidak baik, curang, dan merugikan pihak lain. Adapun tujuan dilakukannya kongkalikong umumnya untuk mencapai suatu kepentingan pribadi atau golongan dengan mengabaikan kepentingan banyak pihak.

Praktik kongkalikong dalam bisnis pernah dilakukan oleh Yamaha dengan Honda dalam penetapan harga sepeda motor jenis skuter matik berkapasitas 110 – 250 cc. Kedua perusahaan otomotif tersebut bersekongkol untuk mengatur harga demi mendapatkan keuntungan besar. Praktik kartel ini mengakibatkan tidak adanya kompetisi harga dan cenderung monopoli sehingga saling mendapatkan keuntungan. Dalam kasus ini, jelas masyarakat sebagai konsumen yang dirugikan.

  • Koneksi

Koneksi menjadi salah satu sifat yang bertentangan dengan etika dalam bisnis. Menurut KBBI, kata koneksi memiliki makna hubungan yang dapat memudahkan atau melancarkan segala urusan. Selain itu, koneksi juga diartikan sebagai kenalan. Dari makna katanya seolah tidak menunjukkan sifat yang negatif. Namun, jika istilah ini digunakan dalam dunia bisnis maka konotasinya akan kurang baik. Dalam dunia bisnis, koneksi dipahami sebagai hubungan yang dapat dimanfaatkan untuk mempermudah dan memperlancar segala urusan tanpa melalui prosedur yang seharusnya.

Sebenarnya tak hanya dalam dunia bisnis saja, tetapi juga dalam birokrasi pemerintah pun, istilah koneksi juga memiliki sifat yang kurang baik. Artinya, koneksi memungkinkan seseorang yang secara kompetensi kurang memadai bahkan tidak memenuhi syarat tetapi bisa mendapatkan pekerjaan atau proyek secara mudah.

Apa contoh nyata dari sifat koneksi ini? Banyak, bahkan hingga saat ini pun masih terjadi. Sebut saja dalam proses rekruitmen pegawai di instansi baik pemerintah maupun swasta. Umumnya orang yang memiliki koneksi ‘orang dalam’ akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan dibandingkan dengan orang yang hanya mengandalkan hasil tes tetapi tidak didukung dengan adanya koneksi.

  • Kolusi

Sifat lain yang bertentangan dengan etika bisnis adalah kolusi. Apa itu kolusi? Dalam KBBI, kolusi diartikan sebagai kerja sama rahasia dengan maksud tidak terpuji. Secara lebih rinci kolusi dapat dipahami sebagai suatu bentuk kerja sama antara pejabat pemerintah atau petinggi perusahaan dengan oknum lain secara ilegal atau melanggar hukum untuk mendapatkan keuntungan material diantara mereka.

Kolusi sebagai suatu bentuk perbuatan tidak jujur yang menghasilkan kesepakatan secara rahasia yang disertai dengan pemberian uang atau fasilitas tertentu yang kemudian disebut dengan gratifikasi. Pemberian gratifikasi dimaksudkan sebagai pelicin agar segala urusan menjadi lancar. Praktik kolusi ini jelas merugikan banyak pihak, tak hanya masyarakat umum bahkan juga negara.

Contoh kasus kolusi sebenarnya banyak sekali. Sebut saja para pejabat yang menerima suap dari pengusaha untuk melancarkan perizinan suatu proyek. Bahkan baru-baru ini kasus mega proyek Meikarta telah menyeret beberapa pejabat di instansi pemerintah Kabupaten Bekasi terkait dengan penerimaan suap guna mempermudah dan memperlancar perizinan pelaksanaan proyek tersebut.

  • Komisi

Terakhir adalah komisi. Menurut KBBI, komisi memiliki arti yaitu imbalan berupa uang atau persentase tertentu yang dibayarkan karena jasa yang diberikan dalam jual beli. Sebenarnya komisi merupakan hal wajar sebagai imbalan atas jasa seseorang yang berhasil memasarkan atau menjual barang tertentu. Misalnya saja dalam jual beli properti umumnya broker atau perantara yang menghubungkan antara penjual dengan pembeli akan mendapatkan komisi ketika terjadi kesepakatan transaksi tersebut.

Lantas, mengapa komisi termasuk dalam sifat yang bertentangan dengan etika bisnis? Komisi memiliki konotasi negatif apabila dipraktikkan oleh pengusaha kepada pejabat pemerintah. Dalam hal ini jelas ada kepentingan pengusaha agar urusannya dipermudah oleh pejabat yang bersangkutan. Pejabat yang dijanjikan akan mendapatkan komisi (fee) dari pengusaha tertentu jelas akan bertindak kurang adil dan cenderung menyalahgunakan kewenangannya.

Contoh kasusnya adalah banyaknya kepala daerah yang menerima komisi proyek sekian persen. Salah satunya adalah mantan Bupati Lampung Selatan yang diduga mendapatkan fee proyek sebesar 17 persen. Adanya iming-iming pemberian komisi ini menjadikan pejabat tidak bisa objektif dalam memilih pengusaha yang berhak menang atas proyek pemerintah. Proyek-proyek yang umumnya bernilai tinggi akan dengan mudah dimenangkan oleh pengusaha yang telah memberikan iming-iming komisi tersebut.

Dalam konteks apapun baik dunia bisnis maupun birokrasi pemerintahan, sifat 5K tak hanya menimbulkan dampak kurang baik terhadap upaya terciptanya kompetisi bisnis yang sehat, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerugian bagi banyak pihak, baik di kalangan pengusaha, masyarakat umum, bahkan juga negara. Apapun alasannya praktik 5K tidak bisa dibenarkan, karena menumbuhsuburkan kecurangan yang jelas merugikan banyak pihak.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang katebelece, kongkalikong, koneksi, kolusi, dan komisi, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Tipe Orang yang Akan Gagal Mengelola Uang
Skill Keuangan yang Harus Diajarkan Ke Anak
Contoh Keputusan Finansial yang Buruk
Mengapa Orang Yahudi Sukses?
Jangan Beli Mainan Anak-anak Seperti Ini
Kesalahan dalam Membeli Mobil
Jangan Menyewakan Rumah kepada Orang Seperti Ini
Skill Penting Wajib Dikuasai agar Sukses
Mengapa Asuransi Mobil Seharusnya Wajib?
Cara Nego Gaji Terbaik


Bagikan Ke Teman Anda