Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Nasehat Keuangan yang Akan Membuat Kalian Lebih Dewasa Soal Keuangan

#nasehat keuangan

Ingatkah kita soal nasehat orang tua saat kecil? Mengerjakan PR dengan rajin, jangan pacaran mulu, dapetin nilai yang bagus, dan sebagainya. Waktu kita mendengar semuanya itu, kita sepertinya tidak bisa tidak membantah, tapi efek sampingnya… Oh, begitu dahsyat dan luar biasa!

Tapi sekarang, kita sudah dewasa. Gak perlu diomongin macam-macam oleh orang tua pun kita sudah tahu apa yang harus dan tidak boleh kita lakukan. Paling-paling nasihatnya tidak jauh-jauh dari, “Cepetan kawin,” atau “Dapat keluarga yang sakinah mawadah warohmah,”

Kalau dibandingkan dengan keadaan waktu kita kecil, bedanya bagaikan langit dan bumi. Dengan perbedaan yang jauh ini, otomatis penyesuaian kita juga lebih besar ketika menginjak usia dewasa, termasuk hal-hal yang menyangkut keuangan. Empat “nasehat orang tua” soal keuangan ini akan membantu kalian mencapai kematangan berpikir untuk lebih dewasa mengenai kondisi keuangan kalian:

1. (Percaya Gak Percaya) Bank Penerbit Kartu Kredit Sebenarnya Sengaja Buat Kalian Lupa Bayar

Karena salah satu persyaratan kartu kredit adalah memiliki penghasilan tetap, maka bukan hal yang janggal kalau sekalinya kita memiliki penghasilan tetap dalam jumlah yang pasti, kita langsung mendaftar untuk kartu kredit. Dengan mendaftar kartu kredit yang saat ini kita ketahui sebagai primadona, kita akan memiliki akses ke banyak fasilitas yang tidak dimiliki oleh alat pembayaran lain selain kartu kredit.

Tapi, jangan lupa, kartu kredit itu lebih besar tanggungjawabnya dibandingkan dengan alat-alat pembayaran lain seperti kartu debit. Berbeda dengan kartu debit yang penarikannya bisa tiap saat dan tidak dikenakan biaya, penarikan uang kartu kredit selalu ada biayanya. Belum lagi kalau telat atau gagal bayar iuran, bisa-bisa BI Checking menanti.

Persoalannya, bank akan melakukan segala cara untuk membuat kita lupa membayar biaya-biaya terkait kartu kredit. Salah satu cara yang umum digunakan oleh bank-bank di seluruh dunia (termasuk Indonesia) adalah dengan memberlakukan jumlah pembayaran minimum.

Secara psikologis, kita akan langsung merasa “ringan” begitu ada yang mengatakan soal “jumlah pembayaran minimal”. Karena toh, kita “hanya” perlu membayar yang dipersyaratkan bank. Tetap saja, yang namanya tagihan kartu kredit sifatnya menjerat seumur hidup. Dari bunga dan denda yang dihasilkan dari lebih atau kurang bayar semacam ini, bank memperoleh uang dari nasabahnya.

2. Sadarlah, Uang Itu Bukan Kekuatan Kalau Kita Terus-terusan Menghabiskannya

Hampir di seluruh belahan dunia, orang yang memiliki uang pasti lebih direspek dibandingkan mereka yang tidak memiliki uang. Dengan kekayaannya, orang-orang “berduit” ini dapat melakukan apa saja dengan uang mereka, mulai dari membangun sekolah untuk memajukan pendidikan warga setempat atau membeli barang-barang yang Instagrammable nan cetar membahana.

Di saat yang sama, kalau kita terus-menerus memboroskan uang untuk kepentingan yang tidak berguna, uang itu tidak akan lebih dari sekadar kedok untuk menutupi rasa malu dan rendah diri. Sebaliknya, uang hanya akan menjadi kekuatan kalau kita dapat “memutar” uang sehingga menghasilkan lebih banyak uang, lewat menabung atau membeli berbagai produk perbankan yang dapat melipatgandakan kekayaan kita.

Karena itu, inti dari nasihat kedua ini adalah gunakan uang sebaik-baiknya. Ketahui situasi mana yang harus keluar uang dan mana yang dapat menghasilkan uang, maka kita akan menjadi orang yang bijaksana dan memiliki kekuatan atas uang, bukan sebaliknya.

3. Jangan Menunda-nunda

Apapun yang terjadi, jangan pernah menunda-nunda jatah pengeluaran maupun pemasukan kita. Di artikel sebelumnya yang membahas mengenai 5 macam rahasia orang-orang yang sukses hidup hemat, kita telah membahas tentang banyaknya cara yang dapat digunakan untuk menghemat pengeluaran sekaligus meningkatkan pendapatan.

Dengan banyaknya cara yang dapat kita lakukan terkait manajemen keuangan kita pribadi seperti ini, seharusnya banyak jalan yang dapat kita lakukan untuk mengelola kekayaan yang kita miliki. Persoalannya tinggal pada kemauan kita masing-masing untuk melakukannya “saat ini” selagi kita dapat melakukannya.

Karena itu, untuk dapat berpikir dewasa soal keuangan, mari kita tidak lagi menunda-nunda kesempatan penghasil maupun penghematan keuangan yang ada di depan mata kita. Percayalah, semuanya ini akan membawa dampak positif pada kondisi maupun tren keuangan kita.

4. Menghabiskan Uang Butuh Pengorbanan, Apalagi yang Sesuai Keinginan Kita

Waktu kita kecil, kita mau apa-apa pasti dituruti. Bahkan ketika kita tidak memiliki uang, kita tinggal bilang ke mama-papa dan mereka pasti akan membelikan yang kita sukai. Namun apadaya, kehidupan orang dewasa sangat berbeda dengan kehidupan anak kecil.

Ada banyak pertanggungjawaban yang harus kita perbuat di setiap aspek kehidupan, termasuk pengeluaran. Di satu sisi, barang-barang mewah berharga murah dan berbagai kenikmatan dunia terus menggoda kita hingga kita jatuh pada perangkap yang mereka buat.

Lewat situasi seperti ini, akhirnya kita harus memilih satu dan mengorbankan salah satunya. Pengecualian terjadi ketika ekspektasi hidup kita rendah atau kita sendiri tidak suka bermewah-mewah, namun apakah semua orang demikian? Maka, untuk jadi dewasa dalam mengelola keuangan, kita perlu mengorbankan salah satu dari anggaran keuangan atau keinginan kita.

Demikian empat nasihat keuangan yang dijamin akan membuat kalian menjadi lebih dewasa. Selain keempat hal ini, apa saja nasihat keuangan lain untuk para anak muda yang dapat kalian bagikan? Masih banyak, lho!

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang 4 nasehat keuangan, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Perbedaan Tax Avoidance dengan Tax Evasion
Apa itu Traveloka PayLater (Pinjaman dari Traveloka)?
Perbedaan antara Pajak dengan Bea Cukai
Kartu Kredit dengan Fasilitas Lounge di Bandara Soekarno Hatta
Pentingnya Mengenali Nasabah dalam Sektor Perbankan
Step by Step Cara Mendaftarkan Merek Dagang
Teknik untuk Mencegah Pemalsuan Uang dan Fitur yang Tidak Ada di Uang Palsu
Perbedaan Karakteristik Perusahaan Dagang dengan Perusahaan Jasa
Cara Membeli Rumah Lelang Melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN)
Perbedaan Kurs Referensi JISDOR vs Kurs Tengah BI


Bagikan Ke Teman Anda