Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Perbedaan GPN, Visa, dan Mastercard Serta Dampaknya pada Perdagangan Internasional

Perkembangan teknologi merambah semua lini, termasuk finansial. Dulu, uang merupakan satu-satunya alat pembayaran di setiap transaksi ekonomi setelah ditinggalkannya sistem barter. Kini, transaksi ekonomi tak lagi didominasi dengan pembayaran tunai yang menggunakan fisik uang, tetapi juga dimungkinkan melalui pembayaran non-tunai dengan kartu baik debit maupun kredit.

Kartu debit atau kredit seolah menjadi kartu sakti yang mempermudah transaksi di manapun dan kapan pun. Hal ini tak lepas dari fasilitas layanan perbankan yang terintegrasi dengan jaringan perdagangan global. Adalah Visa dan Mastercard merupakan duo pionir perusahaan jasa keuangan multinasional asal Amerika Serikat yang memberikan fasilitas transfer dana elektronik.

Visa dan Mastercard bukanlah perusahaan yang bergerak di bidang perbankan yang menerbitkan kartu debit dan kredit, tetapi merupakan provider jasa keuangan yang menyediakan lembaga-lembaga keuangan dengan produk pembayaran yang menjangkau seluruh benua, kecuali Antartika. Kedua perusahaan ini sejatinya adalah rival yang masing-masing berusaha memberikan layanan dan fasilitas terbaik guna merebut pasar.

Fungsi dan perbedaan Visa dengan Mastercard

Sebagai provider jasa keuangan terbesar di dunia, Visa dan Mastercard mampu mendominasi pasar. Hal ini ditunjukkan dengan dicetaknya logo Visa atau Mastercard di setiap kartu debit atau kredit yang diterbitkan oleh lembaga perbankan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Bukan tanpa makna, keberadaan logo Visa atau Mastercard pada kartu debit atau kredit tersebut memungkinkan nasabah atau pemegang kartu melakukan transaksi di setiap merchant baik di dalam maupun luar negeri.

Kartu debit atau kredit berlogo Visa atau Mastercard jelas memberikan kemudahan bertransaksi, karena pembayaran bisa dilakukan secara non-tunai. Nasabah atau pemegang kartu tak perlu repot membawa uang tunai dalam jumlah banyak saat berbelanja atau travelling ke luar negeri, yang justru rawan kehilangan bahkan memicu aksi kriminalitas.

Selain mudah, penggunaan kartu debit atau kredit berlogo Visa atau Mastercard juga praktis. Fungsinya sebagai alat pembayaran non-tunai hanya cukup dengan menggesek atau memasukkan ke dalam slot mesin EDC (Electronic Data Capture). Apapun yang nasabah atau pemegang kartu inginkan bisa didapatkan.

Meski sama-sama sebagai alat pembayaran non-tunai yang menjangkau seluruh negara di dunia, namun Visa dan Mastercard memiliki perbedaan. Adapun perbedaannya sebagai berikut.

  • Jangkauan dan popularitas

Baik Visa maupun Mastercard telah menjangkau pasar di seluruh dunia. Namun tak semua merchant bekerjasama dengan kedua provider tersebut. Jika suatu merchant hanya menerima pembayaran dengan kartu berlogo Visa saja, maka kartu berlogo Mastercard tidak dapat digunakan. Demikian pula sebaliknya. Meski demikian, kedua provider memiliki zona popularitas yang berbeda. Visa lebih populer di pasar Asia, sedangkan Mastercard lebih populer di pasar Amerika dan Eropa.

  • Biaya transaksi

Dalam penerapan tarif atau biaya transaksi antara Visa dengan Mastercard berbeda. Biaya transaksi Mastercard cenderung lebih murah yakni antara 0,2 hingga 1 persen tergantung dari setiap merchant. Sementara biaya transaksi Visa sebesar 1 persen dari total transaksi. Biaya transaksi baik Visa maupun Mastercard ini diberlakukan saat nasabah atau pemegang kartu bertransaksi di luar negeri.

  • Perlindungan nasabah

Kartu debit atau kredit merepresentasikan aset atau aktiva lancar yang dimiliki nasabah dalam bentuk tabungan, giro, deposito, dan lainnya. Sebab itu, penggunaan kartu debit atau kredit sebagai alat pembayaran non-tunai cukup riskan. Maka dari itu, baik Visa maupun Mastercard memberikan perlindungan kepada nasabah, di mana Visa menawarkan pin statis atau One Time Password (OTP) sebagai pengaman saat bertransaksi. Sementara Mastercard memberikan kode pengaman (secure code) berupa pin tambahan yang harus dimasukkan nasabah atau pengguna kartu saat melakukan transaksi secara online.

Hadirnya GPN dalam sistem perbankan di Indonesia

Kemudahan dan kepraktisan penggunaan kartu debit atau kredit berlogo Visa atau Mastercard tidaklah gratis, ada efek finansial yang harus dibayar, yaitu biaya transaksi. Biaya ini menjadi beban masyarakat dan juga negara. Setiap transaksi dengan menggunakan mesin EDC dari bank lain, nasabah akan dikenakan charge atau biaya yang besarannya bisa mencapai 2 hingga 3 persen dari total nilai transaksi, tergantung dari kebijakan masing-masing bank. Sementara negara juga dibebani biaya sewa jasa proses routing atau transaksi yang harus dilakukan di luar negeri.

Kini, Indonesia dan masyarakat bisa berlega hati atas hadirnya GPN (Gerbang Pembayaran Nasional) sebagai sistem pembayaran non-tunai dalam negeri. GPN tak ubahnya seperti Visa dan Mastercard. Sistem ini memungkinkan masyarakat khususnya nasabah bank atau pemegang kartu debit atau kredit dengan logo GPN untuk melakukan transaksi non-tunai dengan biaya yang lebih murah. Artinya penggunaan mesin EDC bank lain saat bertransaksi non-tunai hanya dikenakan biaya 1 persen dari total nilai transaksi. Tak hanya menawarkan efisiensi bagi nasabah, GPN juga dapat mengefisienkan biaya routing ke luar negeri, karena transaksi pembayaran non-tunai dapat diproses di dalam negeri.

Untuk saat ini, penerbitan kartu debit dengan logo GPN masih terbatas pada bank dan jenis kartu tertentu saja. Namun ke depannya, seluruh kartu debit yang diterbitkan oleh lembaga perbankan di Indonesia akan dilengkapi dengan logo GPN. Sistem GPN ini sangat bermanfaat bagi masyarakat, karena sudah terintegrasi dengan seluruh bank dalam negeri. Berbeda dengan kartu debit berlogo Visa atau Mastercard yang dimungkinkan masih mengalami kendala saat digunakan bertransaksi non-tunai, karena antara bank penerbit kartu dengan bank pemilik mesin EDC tidak selalu saling terkoneksi.

Sayangnya jangkauan penggunaan kartu berlogo GPN masih terbatas dalam negeri atau wilayah Indonesia saja. Kartu GPN ini belum bisa digunakan untuk bertransaksi non-tunai di luar negeri. Sebagai sistem yang masih baru, Bank Indonesia selaku pemegang otoritas di bidang perbankan masih membatasi jangkauan penggunaan kartu GPN. Alasannya, jumlah proporsi jumlah nasabah yang bertransaksi di luar negeri cenderung lebih kecil dibandingkan dengan jumlah nasabah yang bertransaksi di dalam negeri. Sementara bagi nasabah yang ingin bertransaksi non-tunai di luar negeri bisa menggunakan kartu debit atau kredit berlogo Visa atau Mastercard.

Dampak GPN terhadap perdagangan internasional

Diluncurkannya sistem GPN sebagai bagian yang terintegrasi dengan sistem perbankan di Indonesia mendapat sambutan yang kurang baik dari otoritas Amerika Serikat. Bahkan pemerintah negeri Paman Sam tersebut memberikan warning perang dagang terhadap Indonesia.

Hal tersebut ditindaklanjuti dengan pengkajian ulang terhadap produk-produk ekspor dari Indonesia yang masuk dalam GPS (Generelized System of Preferences). GPS merupakan hak istimewa atau fasilitas khusus yang diberikan pada produk-produk ekspor ke Amerika Serikat dari 112 negara merdeka, termasuk Indonesia.

Dalam pandangan pemerintah Amerika Serikat, sistem GPN dianggap sebagai ancaman bagi Visa dan Mastercard yang sebelumnya menjadi primadona layanan pembayaran non-tunai di Indonesia. Faktanya memang GPN merugikan dua provider jasa keuangan asal Amerika Serikat, yaitu Visa dan Mastercard. Pasalnya dengan GPN, Visa dan Mastercard tak bisa memproses transaksi kartu debit secara langsung, tetapi harus menggunakan jasa perusahaan switching nasional.

Kehadiran GPN dengan segala sistem dan aturannya memang membuat ruang gerak bisnis Visa dan Mastercard di Indonesia terbatas, terutama untuk transaksi kartu debit di dalam negeri. Namun, dari sisi jangkauan, jelas Visa dan Mastercard jauh lebih luas dibandingkan dengan GPN.

Sebab itu, otoritas Indonesia berdalih bahwa GPN sebenarnya bukanlah ancaman serius bagi bisnis Visa dan Mastercard, karena masih memilih potensi untuk pembayaran non-tunai lintas negara. Artinya, masyarakat Indonesia bisa menggunakan kartu debit atau kredit berlogo Visa dan Mastercard untuk transaksi non-tunai di luar negeri.

Pada prinsipnya, peluncuran sistem GPN untuk perbankan di Indonesia dimaksudkan untuk efisiensi atau penghematan pemerintah atas besarnya biaya sewa jasa pemrosesan transaksi kartu debit yang selama ini dilakukan di Singapura. Dengan menerapkan sistem GPN, pemerintah Indonesia bisa menghemat puluhan miliar rupiah. Selain itu, masyarakat utamanya nasabah juga lebih diuntungkan karena biaya transaksi lebih murah dan telah terintegrasi di seluruh bank nasional.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang perbedaan GPN, Visa, dan Mastercard serta dampaknya pada perdagangan internasional, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Perbedaan Transfer Uang Via LLG, RTGS, dan ATM Bersama
Pentingnya Mengenali Nasabah dalam Sektor Perbankan
Untung Rugi Praktik Dumping dalam Perdagangan Internasional
Apa Itu ‘Bank Stress Test’?
Analisis CAMEL untuk Kesehatan Perbankan
Apa itu Rasio Kecukupan Modal – Capital Adequacy Ratio (CAR)?
Apa itu Rush Money dan Mengapa Berbahaya bagi Dunia Perbankan?
Good Corporate Governance (GCG) Perbankan dan Cara Kerjanya
Mengapa Perempuan Mudah Terjebak Utang Kartu Kredit?
Financial Planning Before Disaster (Persiapan Finansial Sebelum Bencana)


Bagikan Ke Teman Anda