Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Sisi Buruk Kerja di Perusahaan Startup

Setiap perusahaan yang berdiri termasuk perusahaan besar, awal mulanya pasti melalui fase penelitian dan pengembangan dalam rangka mendapatkan pasar yang tepat. Fase ini disebut pula dengan tahap startup atau rintisan yang merujuk pada perusahaan yang baru didirikan.

Perusahaan raksasa masa kini, termasuk Apple, Facebook dan lainnya pernah melalui fase ini. Fase ini memang dapat dibilangkan kurang menyenangkan dan tidak diketahui secara pasti apakah akan berhasil atau tidak.

Namun jika perusahaan startup ini mulai merangkak dan kemudian kokoh berdiri hingga berlari kencang, tentu saja nama pendiri maupun segenap karyawan yang turut merintis akan menjadi harum.

Sisi Buruk Kerja di Perusahaan Startup

Perlu kesabaran untuk bekerja di perusahaan startup karena ada sisi buruk kerja di perusahaan startup yaitu antara lain :

1. Gaji Rendah

Perusahaan startup biasanya berada di titik yang belum menghasilkan profit, bahkan ‘memakan’ banyak biaya untuk penelitian, pengembangan serta promosi. Sehingga wajar apabila mereka mencari karyawan dengan gaji yang tidak terlampau tinggi.

Perusahaan ini memilih karyawan dengan kualifikasi dan pengalaman kerja yang tidak terlalu tinggi sesuai budget gaji yang bisa mereka berikan. Sisi baiknya, karyawan yang baru atau sedang mencari portfolio dapat turut pula mengenyam pengalaman bekerja disini.

2. Beban Kerja Tinggi

Dalam rangka penghematan biaya untuk gaji karyawan pula, perusahaan startup tidak merekrut banyak karyawan. Hal ini menjadikan karyawan yang ada dikerjakan seoptimal mungkin dengan cara memberikan beban kerja yang banyak, bahkan dengan double jobdesc atau kerja rangkap.

Contohnya, marketing merangkap administrasi, akunting merangkap penggajian dan lain sebagainya. Sehingga beban kerja yang diterima lebih tinggi, sementara gaji yang diterima tidak double. Padahal seringkali karyawan perlu pulang lebih larut untuk menyelesaikan pekerjaannya.

3. Potensi Konflik Lebih Besar

Gaji standar, beban kerja tinggi, ditambah karyawan yang masih sedikit rupanya menimbulkan potensi gesekan atau konflik yang lebih besar. Sedikitnya karyawan membuat intensitas interaksi meningkat yang turut menambah potensi konflik, apalagi jika masing – masing pihak memelihara egonya.

Contohlah Office Boy yang merangkap security, ketika tiba waktunya membereskan ruangan, ia sibuk bertugas sebagai tim pengaman. Atau personil akunting yang tidak merasa bukan bagian penggajian

4. Struktur Organisasi yang Belum Rapi

Kekuatan perusahaan selain kuat secara eksternal yaitu di bidang pemasaran sebaiknya diiringi pula dengan kekuatan internal, salah satunya yaitu organisasi yang terstruktur rapi. Darisini dapat diketahui alur otoritas, serta job decription yang perlu diemban.

Perusahaan startup umumnya belum memiliki struktur organisasi yang rapi, dimana semua keputusan masih di tangan owner, dan owner berhak mendelegasikan pekerjaannya ke siapa saja, termasuk ke orang yang mungkin bukan berada di bagian tersebut. Contohnya, owner menyerahkan pekerjaan survey ke tim marketing, padahal seharusnya terdapat tim survey tersendiri.

Struktur organisasi yang belum rapi juga membuat chaos atau kericuhan dalam organisasi. Dimana masing – masing pihak merasa punya otoritas atau bahkan bingung siapakah yang seharusnya memiliki otoritas dalam pengambilan suatu keputusan ketika owner sedang tidak berada di tempat.

5. Administrasi Belum Rapi

Perusahaan startup cenderung massive dalam melakukan promosi keluar, sementara administrasi di dalam belum rapi. Hal ini bisa menimbulkan pelayanan yang kurang baik, karena apa yang dijanjikan kepada pelanggan ternyata belum bisa dilakukan oleh internal perusahaan.

Administrasi disini termasuk pula dalam penggunaan teknologi, yang seharusnya menggunakan sistem berbasis komputer atau web, namun masih jalan di tempat menggunakan sistem manual, baik berupa buku catatan, atau program Ms.Excel di komputer tanpa terhubung ke internet.

Hal ini tentunya akan menimbulkan permasalahan tersendiri di kemudian hari. Administrasi yang masih manual tentu saja membutuhkan waktu lebih lama dibanding yang sudah terkomputerisasi serta terkoneksi pada web, serta saling berintegrasi antar bagian.

6. Penggajian dan Bonus belum Rapi

Hal ini masih bersinggungan pula dengan administrasi yang belum rapi, sumber daya yang belum optimal dan tingginya beban kerja. Sistem penggajian bisa jadi masih manual, serta belum rapi dan tepat waktu dalam pembayarannya.

Bahkan memungkinkan pula tidak dibayar pada saatnya karena cashflow atau arus kas pada perusahaan yang masih belum sempurna. Jika saat penggajian, cash belum terkumpul maka jangan harap karyawan bisa menerima gaji tepat waktu atau menerima secara full.

Termasuk pula pada sistem bonus. Dalam pemberian bonus kepada karyawan tentu diperlukan sistem penilaian maupun evaluasi. Namun, jika administrasi belum rapi maka bonus belum bisa diperhitungkan secara baik dan akurat. Kekurangan cash juga menjadikan bonus yang seharusnya didapat, menjadi tidak diberikan.

Kekurangan cash bukan berarti tidak ada penjualan. Catatan omset bisa dikatakan banyak, namun cash mungkin tidak ada karena para pembeli melakukan pembelian secara hutang, sehingga pada buku perusahaan tercatat sebagai piutang. Piutang yang tidak atau belum tertagih karena sistem administrasi yang belum sempurna ini dapat mengakibatkan perusahaan startup kekurangan cash.

7. Waktu untuk Training dan Pengembangan Diri tidak Banyak

Idealnya perusahaan menyediakan training serta pengembangan diri bagi karyawan demi kemajuan karyawan tersebut yang akan berpengaruh pada melesatnya pertumbuhan perusahaan. Training ini dapat dilakukan sendiri oleh karyawan perusahaan senior, maupun mengundang vendor dari luar untuk memberikan training.

Namun, perusahaan startup umumnya sibuk di tahap awal dan mengabaikan training ini dengan alasan tidak adanya waktu. Perusahaan startup cenderung mencari karyawan yang telah memiliki pengalaman sebelumnya dan bisa terjun langsung tanpa dilakukan training. Tentunya hal ini dapat merugikan karyawan yang berhak pula mendapatkan fasilitas training dan pengembangan diri.

Demikian beberapa hal berkaitan dengan sisi buruk kerja di perusahaan startup. Artikel ini bukan untuk melemahkan semangat Anda, namun supaya Anda lebih paham dan tidak berharap terlalu lebih. Jika Anda melihat perusahaan ini akan berkembang pesat dan besar, silahkan lanjutkan perjuangan Anda.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang sisi buruk kerja di perusahaan startup, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Apa Untung Ruginya Membuat Program Magang bagi Perusahaan Startup?
Kesalahan-kesalahan yang Kerap Dilakukan Startup
Ide-ide Startup yang Sering Gagal
Pijakan Karir Pertama : Sebaiknya Pilih Multi Nasional Company atau Startup?
Apa itu AirBnb? AirBnb Adalah? Pengen tahu?
Ini Dia Sisi Gelap Berkarir di Perusahaan Startup
Apa Beda Startup dan UKM?
Haruskah Drop Out (DO) untuk Fokus Membangun Startup?
9 Hal yang Harus Dimiliki Founder Startup Berbasis Teknologi
Ini Dia Pengetahuan Tak Tertulis yang Perlu Diketahui Pelaku Startup


Bagikan Ke Teman Anda