Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Teori Keunggulan: Teori Adam Smith Vs Teori David Ricardo

Bicara tentang Adam Smith dan David Ricardo pastilah tak jauh-jauh dari teori ekonomi, khususnya dalam lingkup perdagangan internasional. Kedua tokoh tersebut memang terkenal dengan teori ekonominya yang mampu membawa perubahan pada perekonomian dunia. Adam Smith dikenal sebagai penggagas teori ekonomi klasik, sedangkan David Ricardo dikenal dengan teori ekonomi modernnya.

Apa sebenarnya sumbangsih teori ekonomi dari Adam Smith dan David Ricardo terhadap perdagangan internasional? Sebelumnya harus dipahami dulu apa itu perdagangan internasional.

Secara nomenklatur, penggunaan kata internasional jelas melibatkan transaksi ekonomi antar-negara. Lebih jelasnya, perdagangan internasional dapat dipahami sebagai kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama.

Di sini, penduduk yang dimaksudkan bisa antar-individu atau badan usaha, individu atau badan usaha dengan pemerintah suatu negara, atau antar-pemerintah antar-negara.

Perdagangan internasional yang masuk dalam ranah ekonomi makro tak hanya memberikan manfaat secara ekonomi saja, tetapi juga politik, sosial, bahkan pertahanan keamanan negara.

Tak heran jika kemudian muncul dan berkembang ide pemikiran berkenaan dengan teori perdagangan internasional yang dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan pembuatan kebijakan ekonomi makro suatu negara.

Dari banyak teori ekonomi yang berkembang, terdapat dua teori yang menonjol yaitu teori keunggulan absolut yang digagas oleh Adam Smith dan teori keunggulan komparatif yang dikemukakan oleh David Ricardo. Ada perbedaan dari kedua teori ekonomi ini?

Teori Keunggulan Absolut – Adam Smith

Dalam keunggulan absolut yang digagasnya, Adam Smith mengemukakan arti pentingnya sistem ekonomi liberal, yakni bebas dari keterlibatan dan campur tangan pemerintah.

Menurutnya, pengelolaan perekonomian negara dapat dilakukan dengan cara melaksanakan persaingan bebas tanpa adanya intervensi pemerintah. Dengan catatan adanya pembagian kerja dan pengalokasian sumber daya secara efisien.

Smith memandang kemakmuran rakyat di suatu negara dapat dicapai melalui produksi dan perdagangan. Untuk menghasilkan kekayaan yang universal, maka produksi dan perdagangan harus dilakukan secara maksimal.

Sebab itulah, Smith menganjurkan agar pemerintah di setiap negara memberikan kebebasan ekonomi kepada rakyat untuk melakukan perdagangan bebas baik dalam lingkup domestik maupun internasional. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi dapat dicapai melalui pertumbuhan penduduk dan total output yang dihasilkan.

Total output menggambarkan tingkat produksi barang dan jasa yang dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya alam, tenaga kerja, dan persediaan barang. Untuk memaksimalkan pertumbuhan output, maka segala sumber daya alam yang ada harus dikelola secara efektif dan efisien oleh tenaga kerja dengan barang modal. Dengan pertumbuhan output yang maksimal akan mampu menghasilkan keuntungan yang maksimal pula.

Dalam teorinya, Adam Smith mengungkapkan bahwa keuntungan absolut dapat diperoleh suatu negara apabila berhasil membuat biaya produksi barang lebih murah dibandingkan dengan negara lain.

Logika yang dikembangkan, jika biaya produksi antar-negara sama, maka tidak ada alasan untuk melakukan perdagangan internasional. Atas dasar itulah, Smith mengemukakan dua ide utama dalam teorinya terkait dengan perdagangan internasional sebagai berikut.

  • Spesialisasi internasional dan efisiensi produksi

Dalam perdagangan internasional akan selalu ada pihak yang bertindak sebagai eksportir dan importir. Suatu negara akan mengimpor barang dari negara lain apabila barang tersebut diproduksi di dalam negeri justru tidak akan efisien atau kurang menguntungkan. Sebab itulah, suatu negara dapat melakukan spesialisasi pada produksi barang yang menguntungkan, sehingga dapat diperoleh keunggulan absolut.

  • Adanya pembagian kerja internasional (division of labour)

Pembagian kerja internasional yang dimaksudkan di sini adalah perpindahan ruang industri pabrikan. Artinya, proses produksi suatu barang tidak terbatas di suatu negara saja. Dengan adanya pembagian kerja internasional, suatu negara dapat melakukan proses produksi barang dengan biaya yang lebih murah dari negara lain. Efisiensi biaya produksi yang dicapai melalui pembagian kerja internasional dinilai mampu mendorong perolehan keunggulan absolut di saat negara melakukan perdagangan internasional.

Bagaimana realisasi dari teori keunggulan absolut dari Adam Smith ini? Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, simak contoh studi kasus berikut ini.

Keuntungan Absolut
(Produksi 1 orang dalam 1 hari kerja)

Negara Hari kerja per satuan output Dasar Tukar Dalam Negeri (DTD)
Beras Elektronik
Indonesia 50 kg/hari 50 unit/hari 1 kg beras = 1 unit elektronik
Jepang 20 kg/hari 80 unit/hari 1 kg beras = 4 unit elektronik

Dari tabel di atas tampak bahwa Indonesia lebih unggul dalam memproduksi beras dibandingkan dengan Jepang. Sebaliknya, Jepang lebih unggul memproduksi elektronik daripada Indonesia. Berdasarkan data tersebut, seharusnya Indonesia melakukan spesialisasi pada produk beras, sedangkan Jepang pada produk elektronik. Jika kedua negara tersebut melakukan perdagangan internasional, maka masing-masing dapat memperoleh keuntungan.

Untuk Indonesia, diketahui DTD-nya 1 kg beras akan mendapatkan 1 unit elektronik, sedangkan Jepang 1 kg beras sebanding dengan 4 unit elektronik. Apabila Indonesia menukarkan beras dengan produk elektronik Jepang, maka akan mendapatkan keuntungan sebesar 3 unit elektronik yang diperoleh dari 4 unit elektronik dikurangi 1 unit elektronik.

Sementara keuntungan untuk Jepang dengan DTD 1 unit elektronik sebanding dengan 0,25 kg beras, sedangkan di Indonesia 1 unit elektronik sebanding dengan 1 kg beras. Jika Jepang melakukan barter dengan Indonesia, maka akan memperoleh keuntungan sebesar 0,75 kg beras yang diperoleh dari 1 kg beras dikurangi 0,25 kg beras.

Teori Keunggulan Komparatif – David Ricardo

Teori keunggulan komparatif David Ricardo lahir dari adanya kelemahan yang ditemukan pada teori keunggulan absolutnya Adam Smith. Ricardo mengkritisi teori keunggulan absolut, di mana perdagangan internasional hanya mungkin dilakukan oleh negara-negara yang mampu melakukan proses produksi untuk mencapai keuntungan absolut saja. Teori dari Adam Smith tersebut seolah hanya berlaku bagi negara-negara yang mampu melakukan spesialisasi produksi barang.

Lantas, bagaimana dengan negara-negara yang mengalami kerugian absolut, dalam arti tidak mampu melakukan spesialisasi produksi barang? Apakah negara-negara tersebut tidak bisa atau tidak memiliki kesempatan sama sekali untuk melakukan perdagangan internasional?

Atas dasar kelemahan-kelemahan itulah, David Ricardo mengemukakan gagasan baru dalam lingkup perdagangan internasional berupa teori keunggulan komparatif. Menurut Ricardo, negara yang tidak memiliki keunggulan absolut bisa ikut terlibat dalam perdagangan internasional yang menguntungkan apabila mampu melakukan spesialisasi produksi barang yang memiliki biaya relatif lebih rendah dibandingkan negara lain. Sebab, negara yang berhasil memproduksi barang dengan harga relatif lebih murah memiliki keunggulan komparatif.

Teori keunggulan komparatif ini bisa diterapkan dengan menggunakan asumsi sebagai berikut.

  • Perdagangan internasional hanya dilakukan diantara dua negara.
  • Objek barang atau komoditi yang diperdagangkan hanya ada dua jenis saja.
  • Setiap negara hanya memiliki dua unit faktor produksi saja.
  • Skala produksi bersifat content return to scale, yang artinya harga relatif barang-barang komoditas tersebut sama pada berbagai kondisi produksi.
  • Berlaku teori nilai tenaga kerja (labor theory of value) yang menyatakan harga barang sama dengan atau dapat dihitung dari jumlah jam kerja tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi barang tersebut.

Dari berbagai asumsi tersebut, keunggulan komparatif terjadi apabila suatu negara mampu melakukan proses produksi barang dengan biaya tenaga kerja yang lebih murah dibandingkan dengan biaya tenaga kerja di negara lain.

Contoh studi kasus berikut dapat memberikan gambaran yang lebih jelas dari penerapan teori keunggulan komparatif dalam lingkup perdagangan internasional.

Keuntungan Komparatif
(Jam Kerja Per Satuan Output)

Negara Hasil kerja per satuan output Dasar Tukar Dalam Negeri (DTD)
Beras Elektronik
Indonesia 50 kg/hari 50 unit/hari 1 unit elektronik = 1 kg beras
Jepang  60 kg/hari 80 unit/hari 1 unit elektronik = 0,75 kg beras

Berdasarkan data tabel di atas, Jepang unggul atas dua jenis produk, baik beras maupun elektronik dibandingkan Indonesia. Namun, keunggulan tertinggi Jepang pada produksi elektronik. Sementara, Indonesia lemah baik pada produksi beras maupun elektronik, akan tetapi kelemahan terkecilnya pada produksi beras. Oleh sebab itu, sebaiknya Jepang berspesialisasi pada produk elektronik, sedangkan Indonesia pada produk beras. Apabila kedua negara melakukan perdagangan, maka keduanya akan sama-sama memperoleh keuntungan.

Besar keuntungan yang bisa diperoleh Indonesia dengan DTD 1 kg beras sebanding dengan 1 unit elektronik, sedangkan Jepang 1 kg beras sebanding dengan 1,3 unit elektronik. Apabila Indonesia barter beras dengan elektronik Jepang, maka akan mendapatkan keuntungan sebesar 0,3 yang diperoleh dari 1,3 unit elektronik – 1 unit elektronik.

Sebaliknya Jepang juga akan mendapatkan keuntungan. Dengan DTD Jepang 1 unit elektronik sebanding dengan 0,75 kg beras, sedangkan Indonesia 1 unit elektronik sebanding dengan 1 kg beras. Nah, jika Jepang barter elektroniknya dengan beras Indonesia, maka akan mendapatkan keuntungan sebesar 0,25 yang diperoleh dari 1 kg beras dikurangi 0,75 kg beras.

Meski brilian, namun tak ada gagasan yang sempurna. Artinya, sebaik-baiknya ide pemikiran yang dikemukakan meski mampu memberikan sumbangsih pada perubahan dan perkembangan perekonomian dunia, pasti ada saja kelemahannya.

Pada prinsipnya dasar pemikiran Adam Smith dengan teori keunggulan absolutnya dan David Ricardo dengan teori keunggulan komparatifnya tidak jauh berbeda. Perbedaan hanya terletak pada cara mengukur keunggulan suatu negara, di mana pada teori keunggulan absolut lebih menekankan pada biaya absolut, sedangkan teori keunggulan komparatif pada biaya relatif untuk memproduksi suatu barang.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang teori Adam Smith vs teori David Ricardo, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Perhitungan THR Karyawan (Tunjangan Hari Raya)
Apa itu Kebijakan Quantitative Tightening (QT)?
Cara Kerja Penjahat ATM Skimmer
Perbedaan Kebijakan Fiskal vs Kebijakan Moneter
Mengenal Hirarki Kebutuhan Dalam Piramida Maslow
Trend Cord Cutting TV Kabel di Indonesia
Perbedaan Tax Avoidance dengan Tax Evasion
Apa itu Traveloka PayLater (Pinjaman dari Traveloka)?
Perbedaan antara Pajak dengan Bea Cukai
Kartu Kredit dengan Fasilitas Lounge di Bandara Soekarno Hatta


Bagikan Ke Teman Anda