Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Utang Baik dan Utang Buruk : Apa Bedanya?

“Saya tidak mau berhutang karena semua utang adalah buruk!” ujar seorang teman dengan berapi-api. Namun, benarkah yang teman tersebut katakan bahwa SEMUA utang adalah buruk? Jika semua utang adalah buruk, bagaimana kita bisa membangun, pengusaha bisa berbisnis, dan roda perekonomian bisa berputar? Maka, sebenarnya utang – sama seperti semua hal yang ada di dunia – memiliki dua sisi : baik dan buruk.

Lalu bagaimana utang yang dikatakan baik dan bagaimana utang yang dikatakan buruk?

Utang Buruk

Dikatakan utang buruk jika kita berhutang, jumlahnya lebih dari 30 persen total penghasilan kita sebulan. Lalu hutang tersebut kita gunakan untuk membeli hal-hal yang tidak produktif. Atau dengan kata lain kita berhutang untuk membeli hal-hal yang bersifat konsumtif.

Misalnya kita sudah memiliki selusin sepatu di rumah. Namun karena brand A sedang mengadakan diskon akhir tahun hingga 70 persen, kita lalu membeli sepatu tersebut. Bukan karena butuh, melainkan karena ingin.

Misalnya lagi. Kita memiliki mobil yang kondisinya masih bagus, namun sudah kita gunakan selama lima tahun. Karena gengsi, kita lalu memutuskan untuk menjual mobil lama dan mengambil kredit kendaraan bermotor selama lima tahun lagi ke depan. Bukan karena mobil lama kita sudah rusak dan sakit-sakitan, melainkan karena ingin mobil selalu terlihat baru dan up to date.

Semua hutang yang mengakibatkan penurunan nilai terhadap barang yang dibeli menggunakan hutang tersebut, merupakan hutang yang buruk.
Ketika membeli sepatu brand yang harganya melejit, segera setelah kita membayarnya di kasir, sepatu tersebut sudah mengalami penurunan nilai.

Misalnya harga sepatu kita beli Rp 1 juta. Segera setelah kita beli, harganya bisa mencapai setengah dari harga tersebut – bahkan bisa jadi tak sampai.
Sama seperti kita membeli mobil baru dengan hutang. Ketika kita membeli mobil dengan harga Rp.200 juta, segera setelah kita bayar, harganya tak lagi Rp.200 juta. Namun kita tetap harus membayar utang sebesar 200 juta rupiah.

Kesimpulannya adalah Utang dikatakan buruk jika :

  1. Utang Buruk jika jumlahnya lebih dari 30% penghasilan kita perbulannya. Hal ini bisa mengganggu pos-pos keuangan untuk hal-hal yang lebih penting
  2. Utang Buruk jika digunakan untuk membeli barang-barang yang bersifat konsumtif. Yaitu barang yang nilainya terdegradasi segera setelah kita membelinya.
  3. Utang Buruk jika utang yang kita timbulkan karena keinginan dan bukan kebutuhan. Karena kita ingin memenuhi rasa gengsi, atau rasa bangga karena memakai barang bermerek yang terkenal mahal.

Utang Baik

Lalu bagaimana dengan utang baik? Utang dikatakan baik jika memang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan bukan keinginan – dengan cara yang cerdas. Atau utang yang digunakan untuk membeli atau membiayai sesuatu yang produktif atau menghasilkan.

Misalnya, kita sedang membutuhkan sebuah lemari, lalu ingin membelinya di sebuah toko yang sedang melakukan promo credit card dengan potongan hingga 15%. Jika kita membelinya dengan tunai, kita diharuskan membayar penuh. Namun dengan menggunakan credit card, kita bisa menghemat uang kita hingga 15% dengan cicilan nol persen. Dengan cara yang cerdas, tentu saja kita lebih baik memilih untuk membayar dengan kartu kredit.

Lemari yang kita butuhkan kita dapatkan, sekaligus kita menghemat uang sebesar 15%. Menyenangkan bukan?

Contoh utang baik lainnya yaitu, jika kita ditawarkan untuk mengambil soft loan di kantor kita. Lalu kita mengajukan pinjaman sebesar Rp500 juta yang kita bayar melalui potongan gaji setiap bulannya. Uang tersebut lalu kita belikan sebuah rumah kecil yang bisa dikontrakkan per bulannya.

Dari rumah tersebut, kita mendapatkan beberapa keuntungan. Pertama, kita memiliki pemasukan tambahan tiap bulan yang dapat kita gunakan untuk meringankan cicilan rumah tersebut per bulannya. Kedua, kita mendapatkan rumah dan tanah yang harganya naik dari tahun ke tahun.

Sehingga dengan harga rumah yang Rp500 juta ketika kita membelinya, setiap tahun berikutnya harganya tentu bernilai lebih dari Rp500 juta. Bayangkan jika kita memiliki rumah tersebut selama puluhan tahun. Berapa margin keuntungan yang bisa kita dapatkan?

Kesimpulannya, utang dikatakan baik jika :

  1. Utang Baik jumlahnya tidak lebih dari 30% penghasilan kita perbulannya, sehingga tidak mengganggu pos-pos keuangan lain yang lebih penting.
  2. Utang Baik digunakan untuk membeli barang-barang yang merupakan kebutuhan dan bukan keinginan. Ingatkan bahwa selalu ada celah untuk berbelanja dengan cerdas. Manfaatkan promo yang diberikan oleh kartu kredit. Bayar tagihannya tepat waktu.
  3. Utang Baik digunakan untuk membeli barang-barang yang menghasilkan. Baik itu usaha, rumah, tanah yang bisa memberikan anda penghasilan tambahan atau, harganya naik dari tahun ke tahun.

Sehingga dari sini, kita bisa menimbang dan memutuskan apakah selama ini utang kita sudah bersifat baik atau buruk? Sebisa mungkin kita arahkan ke utang-utang baik agar tidak menyesal di kemudian hari ya, readers.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang beda utang baik dan utang buruk, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Agar Bisa Menabung, Hindari Beli Barang Berikut
Membuat Anggaran ketika Sedang Bangkrut
Kesalahan Mengatur Keuangan yang Umum Terjadi
Tipe Orang yang Akan Gagal Mengelola Uang
Skill Keuangan yang Harus Diajarkan Ke Anak
Contoh Keputusan Finansial yang Buruk
Mengapa Orang Yahudi Sukses?
Jangan Beli Mainan Anak-anak Seperti Ini
Kesalahan dalam Membeli Mobil
Jangan Menyewakan Rumah kepada Orang Seperti Ini


Bagikan Ke Teman Anda